Senin, 29 April 2013

BAGIAN 2



PUPUH IV
Tuan-mu memancarkan cahaya-Nya
Ke segenap penjuru
Maka,
segala yang mewujud adalah
bayang-bayang Dia,
perwujudan-Nya
Dia-lah keberadaan sesungguhnya,
bayang-bayang adalah tiada
Dia-lah Hidup sesungguhnya,
bayang-bayang tiadalah hidup
Dia-lah yang Yang Dzahir,
bayang-bayang adalah Bathin-Nya
Cahaya-Nya tiada berwarna
Mewujud menjadi banyak warna
Maka,
menjadi salahkah warna merah
bila warna hijau-lah yang kau sukai?
Bayang-bayang ada karena Dia
Dia yang berkehendak mewujudkan
Bila tak suka warna merah
Maka
tak suka kehendak Tuan-nya
Ketahuilah Tuan-mu
Dia Yang Maha Kuasa
Yang memberi segala rahmat
bahkan pada warna merah
adapula bagian rahmat-Nya bagimu



 BAGIAN 2
IKHLAS 
BERSERAH DIRI (ISLAM)
“.... Barangsiapa menyerahkan diri (islam) sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.
 (QS 2:112)
M
akna ayat ini, adalah penyerahan diri secara total, tanpa keraguan, hanya kepada-Nya sebagai wujud kemurnian (keikhlasan) dalam setiap gerak amal perbuatannya, maka tidak ada rasa takut dan sedih hati lagi pada dirinya. Inilah diri atau jiwa yang telah mencapai ketenangan, ketentraman, dan kedamaian sebagai wujud surga-nya di alam dunia.
Keikhlasan ini dapat menyertai setiap amal perbuatannya, bila telah hilangnya pengakuan (ego)-nya sebagai yang mengotori jiwa, dan telah kenal diri-nya, serta mengenal Tuhan bersama wujud iman lainnya (malaikat-Nya, rasul-Nya, kitab-Nya, hari akhir-Nya, dan kadar baik-buruk-Nya), kemudian selalu menjaga itu semua tetap dalam kesadaran (ingatan)-nya. Sehingga memahami sepenuhnya, bahwa tiada kekuatan-nya melainkan adalah karunia kekuatan dari-Nya, tiada kuasa-nya melainkan karunia kekuasaan dari-Nya, tiada keinginan-nya melainkan keinginan-Nya, dan tiada sesuatupun yang terjadi tanpa seizin-Nya.
Menyadari semua itu membuat dada-nya terbuka untuk menerima kenyataan, yang sesungguhnya mengakui dengan sadar bahwa keikhlasan sebagai yang mutlak menyertai setiap amal perbuatannya, tanpa basa-basi ataupun keraguan. Inilah makna islam (berserah diri) yang sesungguhnya.
“(Iblis) menjawab: demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambamu yang ikhlas diantara mereka”.  (QS 38:82-83)
Justru keikhlasan inilah yang menjadi sasaran iblis agar manusia menjauhi keikhlasan dalam setiap amal perbuatannya. Dan berhati-hatilah serta selalu waspada terhadap tipu daya iblis yang memberikan pemandangan indah pada setiap bujuk rayunya, tetapi justru menjerumuskan. Dan dia tiada pernah berhenti membisikkan bujuk rayunya yang menyesatkan.
Sungguh, amal perbuatan yang tak diawali keikhlasan akan mejadikan amal perbuatan yang sia-sia, dan malah kembali kepada dirinya sebagai keburukan yang pasti akan disesalinya. Sebab, keikhlasan jelas tidak membawa beban ambisi dari pengakuan (ego) yang mengharapkan balasan (imbalan) dari hasil amal perbuatannya. Keikhlasannya adalah wujud fitrah jiwa kemanusiaannya sebagai wujud Tuhannya di alam, yang menyebarkan rahmat Tuhannya kepada sesama makhluk-Nya
Mengenal diri terlebih dahulu, baru kemudian dapat menyerahkan dirinya secara total. Bagaimana mungkin dapat ikhlas menyerahkan diri-nya, jika belum mengenal kepada diri-nya sendiri? Menyerahkan sesuatu yang tidak dikenal dan diketahuinya, tentu tidak masuk akal. Maknanya, menyerahkan segala sesuatu tentu yang terbaik, apalagi kepada Tuhannya. Menyerahkan diri, maka perbaiki diri terlebih dahulu, sehingga bukan hanya pantas untuk diberikan, melainkan pula mengerti dan memahami untuk apa menyerahkan, serta atas dasar apa menyerahkan, sehingga mengenal arah tujuan kemunian (keikhlasan)-nya.
Bila tiada keikhlasan, bagaimana bisa terjadi penyerahan? Yang ada adalah keterpaksaan, yang diserahkan pun bukan diri-nya, melainkan keadaan-nya. Jiwa (diri)-nya tetap di tempatnya, menolak. Tuhan pun Maha Mengetahui, maka Dia-pun menolak segala bentuk keterpaksaan, “tiada paksaan dalam agama Allah”.
Tidak ada paksaan untuk (ber)-agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. ......”  (QS 2:256)
Pada tahap ini, bagi mereka yang telah mengkokohkan keimanan dan ikhlas dalam beragama, maka tiada lagi menginginkan atau mengharapkan surga, serta takut dan menghindari neraka  (QS 2:112). Keimanan (keyakinan) dan keikhlasan-nya lah yang menyadarinya dengan yakin bahwa Allah Maha Adil dan Dia Maha Benar terhadap firman dan janji-Nya. Tidak ada keraguan bagi orang-orang yang yakin kepada Tuhannya. Keikhlasan atau memurnikan, sesungguhnya, adalah usaha untuk kembali kepada fitrah kemanusiaan-nya yang dikehendaki Allah, yaitu sebagai rahmat bagi semesta alam.
“Maka hadapkan wajahmu dengan lurus kepada agama, sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) jalan yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”, (QS 30:30)
Bila sebelumnya, pemahaman makna ‘islam’ lebih ditekankan kepada tunduk patuh. Maka sekarang, bermakna berserah diri. Bila sebelumnya, lebih pada penekanan, dikatakan kepada mereka yang menolak islam adalah “rasakanlah olehmu azab Tuhan”. Maka sekarang, “rasakanlah olehmu akibat dari perbuatanmu sendiri”.
Hal ini, bukanlah untuk lebih memperhalus penyampaian makna, akan tetapi lebih kepada penekanan, bahwa bukanlah Allah sebagai yang otoriter atau diktator juga kejam, melainkan bahwa segala gerak amal perbuatan akan kembali kepadanya sebagai buah dari yang ditanam-nya sendiri. Bila yang ditanam saja yang bermanfaat, seperti padi misalnya, maka akan pula tumbuh rumput disekitarnya sebagai pengganggu. Maka, bagaimana mungkin menanam rumput, berharap padi pun ikut tumbuh di sekitarnya? Mustahil. Maknanya, bagaimana bisa berharap menghasilkan kebaikan, bila yang dikerjakan adalah amal perbuatan buruk. Renungkanlah.
Jangan lagi terjebak oleh pemahaman yang dapat membuat salah langkah. Kembali kepada pemahaman sebelumnya, “rasakanlah olehmu azab Tuhan (sebagai balasan dari perbuatanmu)”. Yang seolah bermakna, bahwa Allah-lah yang membalas, dan berharap dalam doa-nya agar diampuni Tuhan-nya, sebab Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Padahal tidaklah demikian, sifat-sifat Tuhan tersebut adalah sebagai sifat yang dianugerahkan kepada diri kemanusiaan untuk diwujudkan di alam (dunia), sedangkan segala amal perbuatan-nya tetap akan kembali kepada dirinya sendiri, baik-buruknya pasti akan diterimanya dengan terpaksa maupun sukarela. Sesungguhnya, diri-nya sendirilah yang membalas. Jadi, jangan berharap mimpi di siang bolong. Bagaimana mungkin dapat tidur nyenyak dan bermimpi indah, saat itu kan waktunya hiruk pikuk dan hingar bingar. Belum terlelap, sudah terbangun karena suara berisik. Segala sesuatu telah ada dalam kehendak dan ketetapan-Nya, sebagai keadilan hukum Allah (sunathullah).
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (titik), niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa melakukan pula kejahatan seberat zarrah (titik), niascaya dia akan melihat (balasan)-nya”. (QS 99:7-8)
Kemurnian atau keikhlasan dalam amal perbuatan, yaitu shalat, ibadah, hidup, dan mati-nya, yang didasari dan ditujukan hanya kepada-Nya, adalah karena telah mengenal diri dan Tuhan-nya, serta sedang dalam keadaan ingat (sadar). Mengenal diri dan Tuhan-Nya, adalah memahami fitrah kemanusiaan-nya sebagai perwujudan dari wujud Tuhan-nya di alam, yang mewujud bersama dengan sifat-Nya, dan keluar dalam bentuk amal perbuatan yang merupakan rahmat bagi sesama makhluk-Nya. Sehingga akan menjaga dirinya dari amal perbuatan buruk sekecil apapun itu.
“....sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk (karena) Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagiNya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS 6:162-163)
Berserah diri (islam) bukanlah bermakna pasrah karena tanpa pengetahuan, akan tetapi rela dengan ikhlas karena telah memahami dan menyadari, bahwa keberserah dirian-nya adalah demi mengembalikan kepada fitrah asal-nya yang sungguh mulia, yaitu fitrah diri insan kemanusiaan sebagai perwujudan Yang Maha Terpuji di alam untuk saling menebarkan rahmat Tuhan kepada semesta alam, rahmatan lil ‘aalamiiyn.
Berserah diri (islam) pun bukan hanya mengandung makna hanya menyerahkan diri-nya kepada Tuhan-nya, akan tetapi pula, dengan ikhlas berusaha menghilangkan pengakuan (ego) yaitu  menyerahkan segala sesuatu yang sebelumnya dirasakan sebagai milik-nya. Seperti anak-istri, harta benda, rumah tinggal, kendaraan, hewan ternak atau peliharaan, ladang pekerjaan, dan lain sebagainya. Kemudian pula pada apa-apa yang ada didalam jasad atau tubuh-nya, apa-apa yang diingat dan dipikir-nya, apa-apa yang diucap-nya, apa-apa yang didengar-nya, dan apa-apa yang dilihat-nya, serta gerak dan tenaga-nya, bahkan pada nafas-nya, yang semua itu, ternyata bukanlah dia sebagai pemilik-nya, melainkan Dia-lah pemilik yang sesungguhnya.
Tidak ada sedikitpun kekuasaan dan kekuatan-nya terhadap semua itu, kecuali bila atas izin dan kehendak-Nya. Diri-nya hanyalah cuma menerima semua itu sebagai anugerah dari Allah yang masih harus dikelola-nya secara lurus, baik, dan benar, serta sebagai yang akan dipertanggung jawabkan-nya, kelak. Menerima karena hidup yang diberikan atau dianugerahkan oleh Dia Yang Maha Hidup.
Alam raya ini, langit dan bintang-bintang, gunung-gunung, awan, burung-burung, dan seluruhnya tunduk berserah diri dan bertasbih kepada-Nya. Secara sukarela maupun terpaksa, sadar ataupun tidak sadar, sesungguhnya manusia telah ada dalam kekuasaan ketetapan dan kehendak-Nya, hanya jiwa yang didominasi pengakuan (ego)-lah yang merasa diluar kuasa-Nya. Padahal tidaklah demikian, semua telah tetap dalam kuasa dan kehendak-Nya. Tiada sesuatu sekecil apapun yang luput dari ketetapan dan kehendak-Nya.
Ingatlah, istri serta anak-anak, saudara-saudara, kaum keluarga, harta benda, ladang pekerjaan, dan rumah-rumah, bahkan diri dan tubuh-nya sendiripun bukanlah milik yang dikuasainya, melainkan milik Allah SWT. Yang, segalanya tersebut, sewaktu-waktu, dapat saja hilang atau pergi meninggalkannya.
Apa-apa yang disedekahkan pun adalah karena rizki dari dan kehendak-Nya. Kekuasaanpun dari dan akan kembali kepada-Nya. Akal dan ilmu juga adalah karena kemurahan-Nya. Tidaklah ada secuilpun yang dimilikinya secara hakiki, dan abadi, serta merupakan hasil dari kekuatannya sendiri. Berserah dirilah, karena sesungguhnya tiada kekuatan (kekuasaan) selain dari kekuatan (kekuasaan)-Nya.
Sesungguhnya telah berserah diri apa-apa yang berada di langit dan bumi serta apa-apa yang berada diantara keduanya. Peredaran bintang-bintang serta gugusannya, dan matahari juga bulan serta siang dan malamnya, bumi beserta gunung-gunung dan gerakan peredaran awan-awan pembawa hujan, hewan-hewan dan tumbuhan dalam siklus ekosistem.
Bahkan pada tubuh insan kemanusiaan, pada peredaran darahnya dengan jantung yang memompa mengirimkan makanan kepada setiap sel tubuh, paru-paru yang mengatur pernapasan, sel-sel yang tumbuh dan saling menunjang. Akal pikiran dan ilmu, seluruhnya tunduk dan berserah diri pada ketetapan hukum-Nya. Semua itu adalah karena kuasa Tuhan yang bukan atas kehendak diri kemanusiaan-nya. Hanya jiwa yang didominasi pengakuan (ego)-lah yang merasa diluar kuasa-Nya.
“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pepohonan, binatang-binatang melata, dan sebagian besar dari manusia? ...........” (QS 22:18)
Berserah diri dengan menyatakan kelima rukunnya, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan hajji. Ternyata hanya baru pernyataan, maka belumlah sah bila tidak mewujudkan secara ikhlas dengan mengeluarkan-nya dalam bentuk amal perbuatan yang sesuai dengan pernyataan-nya tersebut. Dan kembali, untuk memurnikan keberserah dirian (islam)-nya sangatlah didukung oleh mengkokohkan kembali rasa iman yang telah dibahas pada bab pertama sebagai dasar pijakan dalam mencapai keikhlasan.
Dikarenakan kelima rukun-nya tersebut sebenarnya merupakan cara-cara ibadah yang lebih bertujuan mencapai kemurnian (keikhlasan) dalam berserah diri pada setiap insan kemanusiaan, atau sebagai sarana latihan pensucian dan pembersihan dari pengakuan (ego) sebagai penyebab segala sesuatu yang menyesatkan jiwa. Yaitu jiwa-jiwa yang diharapkan telah mencapai ketenangan melalui pengendalian diri-nya yang dapat diaturnya secara stabil dan membawanya pada ketentraman hidup.
Keyakinan-nya yang membuat jiwa-nya merasa selalu di dalam perlindungan serta pemeliharaan Dia yang menguasai langit dan bumi dengan segala isinya, sehingga tiada lagi rasa takut pada diri-nya dan tidak pula bersedih hati. Sebab wujud diri-nya adalah perwujudan-Nya, keinginan-nya adalah kehendak-Nya, kekuatan-nya adalah kekuatan-Nya, nafas-nya pun hawa-Nya, apa yang dimiliki-nya adalah anugerah dari-Nya, bahkan apa yang dirasakan-nya adalah karena hidup yang dihidupkan-Nya.
Itulah kesaksian sejati, yang dengan mata hatinya telah dapat melihat serta merasakan secara langsung akan keagungan Dia Yang Maha Pemurah lagi Yang Maha Tunggal, sehingga membawa jiwanya kepada rasa berserah diri (islam) secara ikhlas total semata hanya kepada-Nya.
“Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi Yang Memelihara, tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
(QS 2:255)



Bab VIII
SYAHADAT
Asyhaadu’allaa ilaaha illaallahu, wa asyhadu anna muhammadur-rasulallahu.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, betul, kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.”
 (QS 7:172)
S
emoga ulasan-ulasan pada dua bab sebelumnya, keimanan dan agama, secara keseluruhan telah cukup menambah sedikit pemahaman kepada mengenal Allah selangkah lebih mendekat lagi dari sebelumnya, dan membawa keinginan jiwa untuk lebih mengkokohkan keimanan-nya kembali. Dan dengan begitu, maka makna syahadat yang sering diucapkan dalam shalat, yang kalimatnya diawali dengan persaksian bahwa tiada tuhan selain Dia, menjadi lebih bermakna dan tidak sekedar ucapan sambil lalu. Yang pula, insya Allah, dapat mengarahkan jiwa untuk memimpin kepada amal perbuatan lurus, ingat, dan suci secara tulus ikhlas berserah diri hanya kepada-Nya.
Menyaksikan Dia sebagai Tuhan Yang Tunggal tidak hanya sekedar ucapan tanpa kenyataan, akan tetapi dapat nyata terasa segala nikmat dari setiap rahmat Dia Yang Maha Pemurah. Yaitu Dia yang telah menganugerahkan segala-galanya, bahkan wujud-Nya sebagai wujud yang sesempurna-sempurnanya. Dan juga dapat nyata terlihat wujud-Nya dalam setiap segala sesuatu sebagai ciptaan-Nya yang sesungguhnya adalah perwujudan Dia, Allahu Akbar.
“Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS 2:115)
Kemudian kepada kalimat persaksian selanjutnya. Dengan tidak mengurangi nama besar beliau, nabi Muhammad rasulullah SAW, dan tidaklah siapapun yang sanggup mengurangi atau melebihkan dari apa-apa yang telah ditetapkan dan dikehendaki Allah, dalam mengulas makna syahadat ini, akan tetapi lebih kepada mengembalikan arti dan makna asalnya. Kata ‘muhammadpada bunyi syahadat adalah bukanlah bermaksud menunjuk nama “Muhammad bin Abdullah”, nabi dan rasul junjungan kita, melainkan adalah menunjuk kepada salah satu sifat atau nama Allah sebagai Yang Maha Terpuji yang dianugerahkan kepada manusia.
Memang benar, kemanusiaan yang pertama mendapat gelar tersebut dari Allah adalah Ahmad bin Abdullah (nama yang diberikan oleh kakek beliau, Abdul Muthalib), kemudian nama Muhammad, yang sesungguhnya adalah sebuah gelar tersebut,  jadi lebih melekat kepada beliau dibanding nama asal-nya, yaitu Ahmad. Bukan pula hendak melepaskan nama beliau dari bunyi syahadat, akan tetapi memang begitulah makna sesungguhnya berdasarkan penerjemahan dari bahasa yang digunakan, sebagai usaha memahami makna-makna yang masih tersembunyi untuk menambah kokohnya keimanan kepada kebenaran sejati (al haqq).
Bila telah memahami hal ini, maka makna syahadat akan menjadi lebih bertanggung jawab bersama segala konsekuensinya kepada diri yang mengucapkannya. Yang insya Allah, setelah memahami maknanya, maka akan lebih meresap kedalam jiwa pengucapnya, sehingga jauh lebih mengenal kepada diri-nya sendiri sebagai perwujudan Tuhannya, dan lebih pula mengenal kepada fitrah dan tugas-nya sebagai khalifah dan wakil-Nya yang mewujudkan sifat-sifat Tuhan di muka bumi dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Rahmatan lil ‘aalamiyn. Itulah amanat yang ditanggung oleh kemanusiaan.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, betul, kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.”  (QS 7:172)
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.”  (QS 33:72)
Begitulah sesungguhnya kemanusiaan telah bersaksi dan berjanji sebelum di kehidupan sebelumnya, yaitu dengan berani memikul amanat tersebut. Dan dengan mengucapkan kembali persaksian (perjanjian) tersebut berupa syahadat sebagai penegasan kembali bahwa kemanusiaan kita tidaklah akan lalai terhadap amanat tersebut. Dengan demikian, kehadiran Tuhan akan jauh lebih terasa di dalam dada pada diri-diri yang mengucapkan syahadat ini, karena telah memahami bahwa Tuhannya selalu bersama dalam setiap amal perbuatannya. Maka dirinya akan selalu menjaga amal perbuatannya pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang merupakan sifat-sifat terpuji.
Tentu dalam mengucapkan syahadat bukanlah hanya sekedar mengucapkan pernyataan perjanjian atau persaksian yang bermakna kiasan, kita bersaksi kepada sosok mulia, yang wujud beliau seperti kita (kemanusiaan) yang kita tidak pernah melihat dan tahu rupa beliau, telah lama tidak ada, dan hanya tertinggal kisah beliau. Syahadat atau persaksian itu adalah suatu ikrar persaksian yang tentunya mengikat setiap diri sebagai pengucapnya dengan Dia sebagai Tuhannya. Janji mengakui dirinya yang adalah perwujudan dari wujud Dia Yang Maha Terpuji, sebagai rasul-rasul Allah atau utusan-utusan Allah yang saling menebarkan rahmat Tuhannya kepada sesama makhluk Allah di seluruh semesta alam, seperti yang telah ditauladankan nabi dan rasul Allah junjungan kita Muhammad SAW.
“.... dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan syahadat (persaksian) dari Allah yang ada padanya? Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS 2:140)
Bila disadur atau diterjemahkan kedalam bahasa kita, maka bunyi maknanya adalah, “aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan muhammad (wujud yang terpuji sebagai perwujudan dari Yang Maha Terpuji, ini ) adalah utusan Allah”. Maka segala tanggung jawab serta segala macam konsekuensinya akan menjadi beban bagi diri pengucapnya. Sedang bagi mereka yang tak dapat menangkap makna ini, tentulah tak akan menyadari beban tugas tersebut, dan pengaruh pada kehidupannya pun tak membawa ketugasannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi yang rahmatan lil ‘aalamiiyn.
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ruh Al Amin (Jibril) ke dalam hatimu menjadi salah seorang yang memberi peringatan.”  (QS 26:192-194)
Dan bila makna ini telah meresap disadari, melekat dalam setiap shalat, diucapkan pada setiap tahiyatnya, insya Allah akan menemukan sejatinya diri sendiri sebagai fitrah asal-nya, dan kepada siapa sesungguhnya diri ini bergantung. Serta kepada siapa dia menujukan keikhlasan dalam setiap amal perbuatan, sebagai wujud keberserah dirian-nya. Dan kepada setiap diri kemanusiaan diharapkan menyadari, bahwa segala firman Allah di dalam kitabnya tidaklah hanya ditujukan kepada Muhammad bin Abdulah sebagai rasul, melainkan pula, justru kepada setiap diri kemanusiaan yang membacanya. Dan beliau sebagai manusia pertama yang diberi gelar muhammad oleh Allah, dan dijadikan-Nya sebagai teladan dan contoh bagi setiap diri kemanusian baik pada masa-nya maupun pada masa-masa kemudian setelah-nya.
“Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaian-mu, dan tinggalkanlah segala yang keji, dan janganlah engkau memberi (untuk) memperoleh yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.”  (QS 74:1-7)
Pada penggalan ayat inilah, sesungguhnya makna kerasulan setiap insan kemanusiaan, yaitu pada perintah-Nya, ...... Bangunlah, lalu berilah peringatan ! ..... kemudian selanjutnya, ..... dan bersihkanlah pakaian-mu, dan tinggalkanlah segala yang keji ...... maknanya adalah mensucikan atau membersihkan apa yang ada pada dirinya (sebagai anugerah Tuhannya) layaknya pakaian, sehingga pantas dan sesuai antara ucap, tekad, dan lampah-nya sebagai pembawa atau penyampai petunjuk dan peringatan.
Sekalipun amal perbuatan nyatanya bersentuhan kepada orang-orang lain, diri-diri lain, atau makhluk lainnya, tetapi diri-nya telah menyadari dan mengenal sepenuhnya, wujud dari perwujudan siapa diri mereka sesungguhnya. Maka, dengan begitu, akan terjagalah segala amal perbuatan-nya pada kelurusan, selalu sadar (ingat), dan suci dari pengakuan (ego) yang menyesatkan.
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas semata-mata karena menjalankan agama, yitu berlaku lurus, shalat (mengingat) Allah yang tiada putus, dan  mensucikan (apa-apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya), dan yang demikian itulah agama yang benar (Diynul Qayyimaah)”. (QS 98:5)
Menyadari kembali bahwa diri-nya sebagai wujud terpuji yang merupakan perwujudan dari Yang Maha Terpuji, dan pelaksana tugas kerasulan sebagai penyampai kebenaran dan rahmat dari Tuhan-nya, juga sebagai yang telah diberi kitab (ahli kitab). Mengucapkan pernyataan syahadat ini dalam setiap shalat-nya, kemudian menyatakan (mewujudkan)-nya dengan melaksanakan tugas-nya dalam setiap amal perbuatannya dengan rasa ikhlas.
Dan tugasnya hanyalah menyampaikan, hasilnya merupakan kehendak dan izin-Nya. Murnikan (sucikan)-lah tugasnya tersebut dari pengakuan (ego) yang dapat mengotori amal perbuatan. Jauhkan dari keinginan dan ambisi yang berlebihan dari yang ditugaskan, karena iblis akan ikut masuk bersama penyesatannya yang menjerumuskan.
“Wahai Ahli Kitab ! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, ......”. (QS 4:171)
......... aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi pandangan mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS 7:39)
Padahal iblis tidak memiliki kekuasaan atas diri setiap insan kemanusiaan yang ikhlas dalam setiap gerak amal perbuatan, dia hanya merangsang angan-angan keinginan. Dikuatkannya keinginan jiwa melalui angan-angan yang dikemas dengan rapi agar kelihatan indah dan menarik hati diri yang mengharapkannya. Semakin dikuatkannya lagi harapan itu kepada ambisi untuk cepat dapat meraihnya. Dan kekuasaannya inipun dapat terwujud kepada jiwa-jiwa yang berpaling dari jalan Allah, yaitu yang didominasi oleh pengakuan (ego). Karena itu setiap diri kemanusiaan diharapkan dapat tetap memurnikan keikhlasan dalam  setiap amal perbuatannya agar tetap terjaga dari kuasa gelap yang justru dapat menjerumuskannya kepada kehinaan diri-nya.
Sedikit mengulas kembali, bahwa penciptaan segala sesuatu dimulai dari cahaya-Nya (nur Allah), kemudian darinya diciptakanlah para aparat-Nya atau para malaikat (nur Cahya). Pada cahaya selain bersifat menerangkan, ada pula yang bersifat panas. Mungkin, dari yang bersifat panas inilah malaikat pembangkang (QS 2:34) menjadi ada, dan disebut iblis oleh Allah SWT. Seperti kita tahu, malaikat tercipta dari cahaya sedangkan iblis dari api.
Cahaya yang berubah menjadi api begitu banyak ditemui dalam kehidupan sehari-sehari. Prosesnya, untuk dapat berubah menjadi api, maka cahaya memerlukan benda yang mudah terbakar untuk mendapatkan api, dan bukan benda yang terbakar itulah api-nya, bukan pula terangnya, tetapi nyala-nya. Jelas kita dapat membedakan antara wujud cahaya, terang, dan nyala api. Yaitu cahaya yang menjadikan terang, dan kita dapat mengambil manfaat dengannya, juga cahaya yang menjadikan nyala api yang membakar. Dan keduanya membutuhkan benda (sebagai fasilitas) untuk diketahui keberadaannya. Semua benda ada terlihat karena ada cahaya yang menyentuhnya. Terangnya pun ada pada benda.
Keduanya pun dapat bertempat pada diri kemanusiaan, sebagai media benda tersebut, agar fungsinya lebih berarti. Yang satunya menyampaikan petunjuk, sedangkan yang satunya lagi menghasut. Yang satunya memberi petunjuk dengan terangnya, sedangkan yang satunya lagi menghasut dengan membakar. Akan tetapi, ketahuilah, keduanya sungguh bermanfaat bagi setiap diri insan kemanusiaan untuk mencapai tingkat kesempurnannya.
Bila dicermati dan dipahami secara mendalam, dengan hati bersih dan netral dalam berfikir, sesungguhnya diri-nya sendirilah yang sebenarnya mewujudkan iblis itu hadir atau berpengaruh, dan semakin kuat mencengkeram jiwa selalu dalam pengaruhnya. Begitupun pada malaikat, bila selalu mengingat Allah dan bertawakal untuk terus berada pada cahaya-Nya, maka terangnya (malaikat) akan semakin kuat mempengaruhi jiwanya. Diri yang secara tak sadar terus menjauh dari cahaya Tuhannya, maka justru dia semakin mendekatkan diri-nya kepada kesesatan bujuk rayu iblis (kegelapan).
Pada dasarnya diri insan kemanusiaan amat menyukai terang, dan merasa takut di dalam kegelapan karena menjadi tidak mengetahui apa-apa, hatinya menjadi sempit karena keterbatasan mata memandang. Tetapi sayang, jiwa-nya tiada dapat menyadari ini hingga tidak dapat menerapkannya kedalam memahami  akan tempat kemana dia seharusnya bergantung dan mendapatkan perlindungan.
Jangan biarkan jiwa kita terperosok kepada tipu daya iblis, yang dengan berbagai cara menginginkan setiap jiwa kemanusiaan ikut menemaninya di neraka. Tipu dayanya dapat berupa membakar gairah semangat, sekalipun itu membawa-bawa nama agama dan Tuhannya. Seperti semangat mati syahid di jalan Allah melalui jihad yang salah, padahal ternyata malah merusak dan menumpahkan darah melalui jalan terorisme. Atau pada hal-hal sederhana, berusaha menghambat atau menghalangi umat lain dalam kebebasan beribadahnya. Apalagi sampai merusak rumah ibadah mereka atau menghalangi mereka (umat lain) beribadah kepada Tuhannya, yang ternyata merupakan Tuhan kita sendiri juga. Dan merusak rumah ibadah mereka, yang merupakan rumah Tuhan kita sendiri. Sesungguhnya, bila demikian, maka perbuatan itu menzhalimi diri kita sendiri.
“Dan tidaklah terpecah belah orang-orang ahli kitab (yang diberi kitab) melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.”  (QS 98:4)
Sekali lagi, pengakuan (ego) sebagai biang kerok rusaknya hubungan antar kemanusiaan. Semakin dibuka pengetahuan dan bukti-bukti kebenaran, bukannya semakin membuka akal dan kesadarannya, tetapi malah semakin kuat kepada kepentingan ego-nya. Ya, Al Qur’an sendiri selalu mengisahkan para nabi dan rasul Allah datang kepada kaumnya, sebagai pembaharu yang membawa pesan dan peringatan dengan bukti-bukti yang nyata pun selalu ditentang oleh mereka yang telah lama mapan dan merasa akan terganggu kemapanannya.
“dia menjawab (setan), karena Engkau telah menghukumku tersesat, sungguh akan kutahan untuk mereka (manusia) itu dari jalan-Mu yang lurus, kemudian akan kuserang mereka dari muka, belakang, kiri dan kanan mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”. (QS 7:16-17)
Dengan selalu menyadari (ingat) syahadat (persaksian) serta dengan kemurnian (keikhlasan) dalam melaksanakan tugas kerasulan melalui amal perbuatan-nya, setiap diri, maka terhindarlah diri-nya dari penyesatan yang diupayakan iblis. Tentu, karena dengan melakukan tugasnya, selain menyampaikan segala petunjuk Tuhannya kepada sesama, diapun akan menjaga diri-nya dari penjerumusan iblis.
Iblis menyesatkan setiap diri kemanusiaan melalui apa-apa yang dicintainya, anak dan istri, harta benda, kekuasaan, dan lain sebagainya. Bahkan kepada yang mengatas namakan agama dan tuhan, tidak akan segan iblis berupaya menipu diri-diri kemanusiaan agar terjerumus pada kesesatan dan kehinaan, seperti dia telah menghinakan Adam pertama kali.
“(Iblis) menjawab: demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambamu yang ikhlas diantara mereka”. (QS 38:82-83)
Hamba-hamba yang ikhlas dalam amal perbuatannya dengan berserah diri kepada-Nya adalah wujud kemuliaan Tuhan, karena pada diri mereka-lah iblis menyerah, tak dapat menyesatkan, dan menjadi tunduk seperti wujud asalnya yang merupakan aparat atau malaikat Allah.
Itulah sesungguhnya yang dimaksud dengan, menyatakan kemuliaan Tuhan sehingga menjadi nyata kemuliaan-Nya, yaitu dengan mewujudkan Yang Maha Terpuji kepada diri kemanusiaan-nya yang telah berserah diri secara ikhlas dalam setiap amal perbuatan-nya. Itu pulalah sesungguhnya mengembalikan kepada fitrah diri kemanusiaan-nya seperti persaksian di dalam syahadat-nya.
....... maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (dari malaikat) di depan dan di belakangnya. Agar Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah Tuhannya, sedangkan (ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu”. (QS 72:27-28)
Dengan memahami makna syahadat yang mengembalikan kepada fitrah kemanusiaan-nya ini yang juga menyadari diri-nya pun sebagai rasul Allah, dan ternyata masih perlu diawasi dalam menjalankan tugasnya oleh aparat-Nya (malaikat), maka tentu ini akan membuat diri-nya berusaha menjaga dan mensucikan niat serta amal perbuatan-nya yang berguna sebagai peredam gejolak pengakuan (ego) yang amat mendominasi diri (jiwa) setiap insan kemanusiaan, selain karena diawasi dan dicatat segala amal perbuatannya, juga agar tidak terjerumus pada kesesatan, dan akan membawa jiwa kepada ketenangan dan ketentraman, serta akan membuka pintu-pintu pemahaman lainnya sebagai rahmat petunjuk dari-Nya sebagai karunia yang berguna bagi hidup dan kehidupan yang menuju pada keselamatan, yaitu tidak ada rasa takut pada diri-nya dan tidak pula bersedih hati.




Bab IX
SHALAT
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk dzikir (mengingat) kepada-Ku.
(QS 18:14)
K
ita sempat mengulas makna shalat pada bab-bab sebelumnya. Secara umum, makna shalat adalah sebagai mengingat Tuhannya dengan melakukan ritual acara pertemuan antara makhluk dengan Tuhannya. Yang hukumnya wajib dilakukan 5 (lima) kali dalam sehari, yaitu pada waktu terbit matahari (subuh), tengah hari (dzuhur), sore (ashar), tenggelam matahari (maghrib), serta malam (isya).
Dan ada pula shalat-shalat lainnya yang tak terbatas jumlahnya, dan merupakan tambahan, serta sunah hukumnya atau yang tidak diwajibkan, maka waktunya disesuaikan dengan rasa keinginan atau kebutuhannya. Akan tetapi ulasan bab ini hanya menitik beratkan makna shalat, yaitu sebagai yang mengarahkan kemanusiaan kepada amal perbuatan yang terpuji, dan yang mencerminkan atau merefleksikan shalatnya, sehingga terciptalah  jiwa-jiwa dengan akhlak yang mulia lagi terpuji, sebagai fitrah kemanusiaannya yang membawa amanat sebagai wakil-Nya yang mewujudkan sifat-sifat Allah dan sebagai khalifah di muka bumi yang menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmatan lil ‘aalamiiyn.
“...... Dan dzikir (mengingat) kepada Allah itu lebih besar. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS 29:45)
“Tahukah kamu (perbuatan) yang mendustakan agama? Maka itulah yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan”. (QS 107:1-7)
Akan tetapi, setelah ayat-ayat tersebut di atas direnungkan secara mendalam, maka maknanya semakin khusus mengarah pada amal perbuatan yang menyentuh kepada orang lain, sebagai perwujudan shalat-nya. Yaitu amal perbuatan yang merupakan rahmat dari Tuhannya kepada sesama makhluk. Shalat sebagai pengingat dan penyadar bahwa diri-nya adalah perwujudan dari Yang Maha Terpuji, Allahu raahmanur-rahiiym, dan mengarahkan amal perbuatan yang terpuji, yaitu yang suka menolong dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan. Dan akan celaka, bila shalat-nya tidak berwujud pada amal perbuatan terpuji seperti disebut ayat-ayat di atas, yaitu amal perbuatan yang malah tidak terpuji, seperti tidak suka menolong, perbuatan keji, dan merusak atau zhalim.
“Bacalah kitab (al Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan dzikir (mengingat) kepada Allah itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS 29:45)
Makna mengingat pada ayat ini, adalah mengingat yang tiada putusnya (li dzikri) dengan ikhlas berserah diri. Segala amal perbuatan yang diiringi ingat kepada-Nya, tentu akan mensucikan dari kekotoran pengakuan (ego) dan terhindar dari penyesatan dan kesesatan yang menjerumuskan diri kepada kecelakaan. Ini-lah makna shalat-nya pun tetap mengiringi setiap gerak amal perbuatannya, dalam setiap tarikkan dan helaan nafas-nya.
Bila sempat terputus ingat (li dzikri)-nya, mohon ampunlah dengan mengucap istighfar  sebagai penyambung kembali (wustha), lanjutkan mengingat kembali sebagai yang dhaim terus berkelanjutan atau abadi, dan bersyukurlah dengan mengucap syukur alhamdulillah sebagai tajali-nya. Sehingga tiada ada waktu yang kosong tanpa mengingat-Nya, dalam segala kegiatan, kecuali tidur. Dan bila telah terbiasa, maka di dalam tidurnya pun hati atau kalbu-nya akan tetap bergerak mengingat-Nya. Perlu pula diperhatikan kembali, bahwa gerak mengingat tersebut pun janganlah di-aku oleh pengakuan (ego), melainkan adalah mengakui hanya karena diberi anugerah kekuatan oleh-Nya untuk dapat mengingat. Sebab, disinilah dasar awal iblis dalam usahanya membelokkan arah kepada penyesatan yang menjerumuskan setiap diri kemanusiaan.
Dan dengan selalu mengingat Allah, akan menyadarkan diri-nya, bahwa dengan mewujudkan kehendak-Nya menjadi kehendak-nya yang mewujud di alam sebagai amal perbuatan-nya. Maka, itulah yang disebut manusia yang berketuhanan, yang mewujudkan shalat-nya dalam setiap gerak amal perbuatan-nya. Menjadikan kehendak-nya dengan mensucikan-nya, karena sebagai perwujudan dari kehendak Dia sebagai Yang Maha Suci. Juga sebagai bentuk telah berserah diri seutuhnya secara ikhlas bersatu atau manunggal bersama Tuhannya dalam mewujudkan setiap kehendak-Nya di alam, sebagai rahmatan lil ‘aalamiiyn.
“....sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk (karena) Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS 6:162-163)
..... hanyalah untuk (karena) Allah ......”, adalah ungkapan yang menunjuk kepada kemurnian di hati-nya. Pada Dia-lah sesungguhnya segala sesuatu berasal, dan segala sesuatu tersebut kembali menuju kepada-Nya. Maka segala sesuatu tersebut haruslah murni (suci) dari kekotoran pengakuan (ego), agar dapat kembali kepada pemilik sesungguhnya (yaitu Allah, pemilik segala sesuatu dan Yang Maha Suci). Bila tidak, dan diaku oleh ego, maka akan kembali menuju kepada yang mengaku, sebagai yang harus dipertanggung jawabkan. Logikanya, jika telah dapat kembali kepada pemilik yang sesungguhnya, maka tiada perlu lagi ada pertanggung jawaban.
Sah shalat-nya bila suci pakaian, tempat, dan badan-nya. Pernyataan ini mengandung dua makna kesucian. Yaitu suci dan bersih dari kekotoran atau kenajisan baik nyata kelihatannya dan bathinnya. Suci nyatanya, yaitu pakaian, tempat, dan badan yang telah dibersihkan sebelumnya sehingga pantas dan layak, sehingga tidak mengganggu kemurnian shalat-nya dari penglihatan, penciuman, pengucapan, rasa dan pikiran kepada pihak lain dan diri-nya sendiri. Begitupun pada suci bathinnya, yaitu pakaian, tempat, dan badan yang telah dibersihkan sebelumnya dari pengakuan (ego) yang merasa memiliki dan menguasai baik pakaian, tempat, dan badan (tubuh)-nya. Dan bila sebelum shalat-nya diwajibkan bersih (suci), maka setelah shalat-nya pun diwajibkan bersih (suci) amal perbuatan-nya.
Shalat juga adalah salah satu sarana mencapai kemurnian dalam berserah diri. Shalat seharusnya dapat menjaga-nya tetap mengingat Tuhannya sebagai bentuk kedisiplinan yang dapat mempengaruhi pola hidup-nya agar lurus sesuai shalat-nya. Dan bukanlah sebagai orang yang melakukan shalat, tetapi malah lalai terhadap shalat-nya (QS 107:1-7).
Di dalam kehidupan, terkadang ditemui kejadian-kejadian yang dapat menjadi pelajaran sebagai hikmah dari Tuhan. Sekedar cerita, ketika seorang bapak sedang melakukan shalat maghrib berjamaah bersama seluruh keluarganya, terdengar diluar, pagarnya yang terkunci diketuk-ketuk orang. Dia tetap pada shalat-nya hingga selesai, dan suara di luar sudah tak terdengar lagi. Beberapa hari kemudian, di waktu dan keadaan yang sama, dalam shalat-nya, terdengar keras sekali diluar rumahnya, “kebakaran...kebakaran...kebakaran...!!”. Maka dia-pun segera menghentikan shalat-nya, dengan diikuti seluruh keluarganya, diapun bergegas keluar. Ternyata tetangga di seberang rumahnya mengalami kebakaran, untungnya api masih kecil dan banyak orang membantu, tidak ketinggalan dia bersama keluarganya ikut membantu. Sampai api tersebut akhirnya dapat dipadamkan, dan merekapun kembali pulang ke rumahnya. Sambil menutup pintu, ketika semua keluarganya telah masuk, dia bergumam, “haram hukumnya, bila kita tadi tidak segera menghentikan shalat kita, untuk membantu memadamkan api”.
Besoknya, dia mengetahui ada tetangganya yang meninggal dunia. Ketika dia datang melayat, dan mendengar dari pelayat lainnya, bahwa istri dari yang meninggal dunia tersebut, sempat mengetuk-ngetuk pintu pagar rumah-nya untuk meminta pertolongan dengan kendaraan miliknya agar dapat membawa ke rumah sakit, sebelum meninggal. Maka lemaslah seluruh tubuhnya, karena rasa bersalah menyelimuti-nya.
......... Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan”. (QS 107:1-7)
Dia merasa telah lalai dari bunyi ketukan yang dianggap sebagai suatu hal yang sepele, ternyata adalah hal yang sangat penting bagi tetangganya tersebut. Yang dia sesali adalah kepekaan yang tidak segera disambut dengan gerak reaksi dari-nya. Penyesalannya tersebut pun telah membuka dada-nya semakin lebar untuk menerima hikmah sebagai petunjuk dari Tuhannya. Insya Allah, penyesalan-nya akan diterima Allah dan kembali kepada diri-nya dalam bentuk ampunan dari-Nya.
“...... dan dirikanlah shalalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan dzikir (mengingat) kepada Allah itu lebih besar. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS 29:45)
Begitu pentingnya memahami makna shalat dan dzikir (mengingat Allah), sehingga menghindarkan diri kita termasuk golongan celaka sekalipun tidak pernah lepas dari ibadah shalatnya. Golongan yang celaka adalah mereka yang tetap melakukan shalat sebagai ibadah kepada Tuhannya, tetapi tetap pada perilaku atau amal perbuatan yang mengingkari Allah. Shalat untuk mengingat, bukan hanya sekedar kewajiban apalagi mengingkari atau melupakan, mengingat agar dirinya selalu tetap berada pada jalan lurus-Nya.
“Wahai orang yang beriman ! Janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar (mengerti) apa yang kamu ucapkan......”  (QS 4:43)
Ayat di atas menjelaskan, bahwa diri kita dilarang melaksanakan shalat bila dalam keadaan mabuk. Maka pikirkan dan renungkanlah, bagaimana kepada diri-diri yang sedang mengalami mabuk kehidupan dunia? Apakah itu mereka yang sedang dimabuk cinta-asmara, mabuk kekuasaan, mabuk harta, dan lain sebagainya.
Apakah hal tersebut menjadi berhubungan maknanya, bila kemudian kita pahami pula pada penjelasan ayat berikut di bawah ini,
“Tahukah kamu (perbuatan) yang mendustakan agama? Maka itulah yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan. (QS 107:1-7)
Allah mengecam pula mereka yang shalat tapi tak mengerti apa-apa yang telah diucapkannya di dalam shalat, sebagai kelalaiannya, sehingga masih saja tergoda melakukan amal perbuatan yang telah diketahuinya dilarang Tuhannya. Diri yang seperti itu, sebenarnya pun, dalam keadaan mabuk, yaitu mabuk kehidupan atau perhiasan dunia. Mabuk kepada hal-hal yang merugikan, menyakiti atau mendzalimi orang lain, atau sesungguhnya malah menyakiti atau mendzalimi, bahkan merugikan dirinya sendiri. Jika demikian, maka larangan mengerjakan shalat seharusnya pun dikenakan kepadanya. Sebagai pula perbuatan yang mendustakan agama, yaitu ajaran lurus dari Tuhannya.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggung jawaban. (QS 17:36)
Bukan hanya sekedar menyadari, mendengar, melihat, mengucap, serta mencium yang semua itu adalah anugerah pemberian Tuhannya, melainkan pula dengan kepekaan-nya untuk menanggapi atau bereaksi yang sesuai dengan shalat (ingat)-nya agar tidak timbul penyesalan di hari kemudian, sebagai kelalaian-nya.
Jadi makna lalai yang dimaksud Allah adalah menjadi tidak bermanfaatnya shalat (sebagai ibadah ritual kepada-Nya) bagi kehidupan, akibat kebodohannya. Ya, orang yang tidak ingat adalah orang yang kehilangan kepekaan keasadarannya, layaknya orang yang linglung dan bodoh. Apalagi yang tidak mau menggunakan akal pikirannya dalam memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya.
“Dan ingatlah Tuhan-mu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. (QS 107:1-7)
Mengingat Tuhan yang tiada putus, sebagai wujud yang penuh dengan Keagungan dan Kemuliaan serta mewujud di alam kepada setiap diri insan kemanusiaan sebagai perwujudan dari Yang Maha Terpuji. Maka, dengan selalu menyadari dan mengingat-Nya adalah “hal utama yang dapat membuat hati menjadi hidup oleh hidayah (petunjuk)-Nya, sehat oleh karena selalu mensucikan-nya dari pegakuan (ego)-nya, dan peka terhadap kehidupan karena merasa rendah hati dan takut akan mengalami penyesalan akibat tersesat oleh ego-nya sendiri, sebagai kelalaian-nya.
“....... Dan dzikir (mengingat) kepada Allah itu lebih besar. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS 29:45)

Bab X
PUASA
“.... Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
 (QS 2:184)
P
uasa memiliki makna serta manfaat yang beragam,  diantaranya dari beberapa aspek, seperti aspek kesehatan, aspek kejiwaan, dan aspek kehidupan sosial sampai pada kehidupan ekonomi. Bagi kesehatan, puasa adalah menahan lapar dan haus, untuk pembersihan pada sisa-sisa makanan di dalam pencernaan, untuk pembakaran lemak berlebih, juga sebagai waktu istirahat beberapa organ tubuh.
Pada aspek kejiwaan, puasa melatih kedisiplinan, kesabaran, menekan hawa keinginan, dan lain-lainnya yang merupakan pengelolaan hati atau jiwa kedalam ketenangan dan ketentraman. Sedangkan pada aspek kehidupan sosial, puasa dapat menumbuh-timbulkan rasa peka atau kepedulian terhadap sesama dan rasa kebersamaan. Selain itu, dari semua aspek diatas yang dapat disimpulkan, memiliki makna kearah penekanan atau pengurangan dari kebiasaan sebelum-belumnya, maka secara ekonomi seharusnya, puasa adalah wujud penghematan. Apalagi bila pada waktu bulan Ramadhan, sebagai kewajiban satu bulan penuh, maka seharusnya dampaknya akan lebih terasa bagi tubuh dan jiwa.
Namun pada kenyataannya malah terbalik, justru pada bulan Ramadhan-lah, semua harga kebutuhan melonjak naik, orang sibuk mencari kerja tambahan untuk mendapatkan penghasilan lebih, dan aksi kriminalitas pun ikut meningkat. Apakah ini yang dimaksud Nabi Muhammad rasulullaah SAW dengan, (pada saatnya nanti) puasa hanya meninggalkan haus dan lapar? Energi-nya menjadi hilang dengan percuma tanpa menghasilkan makna apa-apa, dan jangankan pahala dari Tuhannya, malah akan menjadi beban yang tetap harus dipertanggung jawabkan, kelak.
Ibarat petani yang menanam di ladang atau kebunnya, tetapi tak ada tanamannya yang menghasilkan buah. Kemanakah kemudian tanaman itu dimanfaatkan? Tentu, digunakan sebagai kayu bakar, yang sebagai bahan bakar memasak bagi keluarganya, paling tidak masih ada manfaat dari-nya. Perhatikan ayat berikut untuk direnungkan maknanya.
“Dan adapun yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka jahanam”. (QS 72:15)
Padahal, puasa di bulan Ramadhan yang dimaksudkan Allah, sesunggguhnya adalah sebagai sarana pelatihan dan penggemblengan pembentukan disiplin jiwa-jiwa yang kuat, serta baik bagi kesehatan tubuh atau jasad. Sehingga terbentuklah insan kemanusiaan yang kuat siap tubuh, mental dan jiwa-nya, serta terpuji dan mulia akhlak-nya sebagai perwujudan dari Yang Maha Terpuji dan Maha Mulia.
Bagaimana mungkin dapat terwujud sesuai dengan kehendak-Nya, bila dalam latihannya saja, suasananya bukan lagi pada penekanan, pengurangan, dan penghematan. Malah sebaliknya, kebutuhan pokok malah meningkat tajam, menyebabkan meningkatnya kebutuhan lainnya yang secara ilmu ekonomi adalah disebut sebagai pemborosan yang menyebabkan masalah-masalah sosial baru yang dapat juga dipolitisir secara tidak bertanggung jawab oleh pihak-pihak yang hendak mengambil keuntungan dari keadaan seperti ini, dimana waktunya telah tertentu disetiap bulan Ramadhan.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”  (QS 2:183)
Maka suasana seperti ini tidak lagi mendukung pembentukan jiwa-jiwa seperti yang dikehendaki Allah. Tabungan hasil kerja payah selama sebelas bulan ternyata habis untuk satu bulan di bulan Ramadhan. Belum lagi, energi yang dikeluarkan untuk pulang mudik. Sebenarnya bukan kepada sekedar hilangnya seluruh energi atau tabungan tersebut yang menjadi keprihatinan, akan tetapi juga, kepada makna kehidupan dan keberserahan diri-nya kepada yang seharusnya pun menjadi terbelokkan, ternyata hanya sebatas ‘wah’-nya suasana di bulan puasa dan suasana saat mudik. Kembali kepada fitrah lebih diartikan dengan mudik dengan atribut yang ‘wah’, sebagai lambang kesuksesan diri-nya. Kembali, pengakuan (ego)-nya yang menjadi momok atau biang kerok terjerumusnya insan kemanusiaan kepada kesesatan.
Budaya-nya yang ternyata selaras dengan pengakuan (ego)-nya telah ikut membentuk dan mempengaruhi jiwa-nya secara lebih dominan ikut membelokkan arah jalan lurus yang telah ditetapkan, melunturkan ingatan kepada-Nya, serta mengotori kesucian niat dan amal perbuatan, sehingga keikhlasan hanya sebatas pengakuan (ego) diri dan keluarga-nya saja. Riya, atas nama tuntutan budaya mudik, dan ini adalah hal yang dapat melunturkan nilai-nilai religius puasa Ramadhan itu sendiri.
“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan.  Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka.”  (QS 2:175)
Hal ini semakin berbahaya, karena jelas mempengaruhi kepada pola hidup kehidupan sebelas bulan berikutnya setelah Hari Raya. Tentu, bila tidak segera mengokohkan keimanan pada Tuhannya sebagai arah tujuan keikhlasan termasuk pada puasa-nya, pada malaikat atau aparat-Nya yang sebagai penggerak dan pencatat niat serta amal perbuatan, pada kerasulan-nya sebagai yang saling menyampaikan rahmat petunjuk-Nya dan sebagai teladan, pada kitab-Nya sebagai yang telah diwariskan dan harus dinyatakan atau diamalkan, pada hari akhir dan hari kemudian-Nya sebagai hari diri-nya menuai apa yang ditanam sebelumnya, serta pada kadar baik dan buruk-nya sebagai sesuatu yang pasti akan diterima-nya. Yang kesemuanya tersebut merupakan sebagai yang membawa jiwa-nya kepada keselamatan hidup yang sehat, tenang, tentram dan damai.
Lihat dan rasakan sendiri kehidupan yang terjadi sekarang ini, serba menjadi mahal dan tidak sehat. Dan hal ini disebabkan pola melatih diri atau jiwa yang salah melalui puasa yang seharusnya dapat mengekang hawa nafsu keinginan jiwa yang berlebihan. Akibatnya pun meluas kepada aspek-aspek kehidupan lainnya, karena jiwa yang tak mudah lagi dikendalikan, bahkan kepada pelemahan keimanan, dan semakin membuat jauh kedalam kesesatan.
Memang kehidupan di bulan Ramadhan menjadi lebih semarak, akan tetapi orientasinya hanyalah materi, dan pandangan kepada akhiratnya menjadi tertutup karena terbawa tuntutan. Banyak mereka yang rela berbuat apapun tanpa batas, hanya demi materi menghadapi bulan puasa dan lebarannya. Norma-norma agama yang mengarahkan jalan lurus pun dilanggarnya, tidak lagi ingat kepada Tuhannya, dan lebih berani mengotori jiwanya ketimbang mensucikannya. Dan hilanglah keberserahan diri (islam)-nya sebagai makhluk kepada Tuhan yang sesungguhnya menguasai hidup dan kehidupan, Allaahu Rabbul ‘Aalamiiyn. Semua hanya karena tuntutan kebutuhan yang telah membudaya di negri ini. Maka janganlah heran bila KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) banyak menjerat para pejabat negri ini. Bayangkan jika KPK pun menangani kasus-kasus korupsi yang kecil-kecil, bukan tak mungkin sebagian warganegara negri ini akan terjerat. Itupun bila penjaranya cukup.
Jika Puasa saja, sebagai yang seharusnya melatih jiwa agar dapat mengekang hawa nafsu diri-diri kemanusiaan, tetapi malah berbelok arah tujuannya, maka dengan apa lagi untuk memperbaiki keadaan ini? Apapun kesulitannya, tetaplah keadaan ini harus segera diperbaiki, terutama menggugah kesadaran setiap diri kemanusiaan untuk mengembalikan Puasa Ramadhan kepada makna dan tujuan utamanya sebagai pelatihan jiwa-jiwa dalam pengekangan hawa nafsunya. Tidak lain pula pengkokohan keimanan kembali, dan selalu menjaga kesadaran dengan ingat kepada Tuhannya adalah sebagai dasar pijakan melangkah untuk dapat memperbaiki keadaan ini.
Akan jauh lebih penting memperbaiki keadaan dibanding menjerat atau menghukum, karena dengan memperbaiki keadaan adalah menciptakan kondisi yang sehat dalam jangka panjang kehidupan bersama. Paling tidak, beberapa generasi akan terbaiki. Dan adalah diri-diri kita sebagai yang memiliki andil dan tanggung jawab memikul tugas tersebut, demi kehidupan sehat anak cucu kita sebagai pelaku generasi mendatang.
Sungguh, jika ini dibiarkan akan menjadi preseden yang buruk bagi generasi-generasi selanjutnya, yang akan semakin mengikis makna melatih pengekangan hawa nafsu melalui ibadah puasa. Apa yang terjadi selanjutnya adalah, kita malah menurunkan generasi yang bermental lembek dan tidak tahan banting, yang terus hanyut menuruti hawa nafsunya. Maka kehancuran umat-lah yang akan terjadi di masa kemudian. Masa kemudian adalah masa-masa bagi anak cucu keturunan kita sendiri. Maka adalah menjadi tanggung jawab diri-diri kita sebagai penentu hari esok.
“Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang bila ditimpa musibah mengucapkan: segala sesuatu datangnya dari Allah dan kembali pula kepada-Nya. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”  (QS 2:155-157)
Ayat di atas menjelaskan, bahwa Allah akan memberi cobaan diantaranya ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta. Maka bagaimana diri-diri kita dapat melaluinya, bila sekarang saja dudah tidak ada kepedulian pada masalah-masalah tersebut yang seharusnya telah dapat dibendung melalui latihan puasa.
Dan sadarilah, lihatlah bagaimana ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta malah telah jadi sebagai yang mencengkeram masyarakat kita. Seperti yang telah kita lihat dan ketahui, pada momen-momen tertentu, pembagian sedekah atau zakat yang dihadiri dan dikerubuti orang yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan, tanpa koordinasi yang baik, sehingga menimbulkan kecelakaan, ada yang terinjak-injak, terhimpit, dan pingsan demi uang yang tak seberapa, bahkan mungkin akan habis dalam sehari itu juga, tapi lihatlah perjuangan mereka.
Kemudian pada setiap masa-masa pemilihan pemimpin daerah atau Pemilu, tidak jarang yang memakai politik uang kepada masyarakatnya. Dan mereka, sebagai objeknya, berani mempertaruhkan lima tahun kehidupannya kedepan, hanya demi uang yang tak seberapa, dan akan habis dibelanjakan dalam satu hari itu juga. Tidak lagi berpikir pada memperbaiki kehidupan jangka panjang.
“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan.  Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka.”  (QS 2:175)
Mereka sebagai objek, dan para pemberi zakat atau calon pemimpin yang membagi-bagikan uang adalah sama-sama yang memprihatinkan. Kedua hal yang menyayat hati tersebut di atas, merupakan indikasi betapa negri ini tengah mengalami krisis moralitas, tidak lagi perduli kehidupan masa depan, hanyalah demi kepentingan sesaat. Bukan lagi merupakan kehidupan yang sehat, dan sangatlah jauh dari nilai-nilai fitrah kemanusiaan seperti yang dikehendaki Allah SWT. Sampai kapan hal ini akan terus berlangsung bila kita segera mengambil sikap? Seakan tidak ingat lagi kepada amanat yang diembannya sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna, dan sebagai wakil Tuhan di muka bumi yang mewujudkan sifat-sifat Tuhannya yang merupakan rahmat bagi semesta alam.
“..... Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keaadaan yang ada pada diri mereka sendiri,....”  (QS 13:11)
Bila juga tidak segera kembali kepada agama, secara murni atau ikhlas menerima dan menjalankan segala niat dan amal perbuatan secara lurus sesuai fitrah yang telah ditetapkan-Nya, secara murni atau ikhlas selalu dalam kesadaran atau mengingat kepada-Nya yang tiada putus, serta secara murni atau ikhlas menghilangkan segala bentuk pengakuan (ego)-nya dalam setiap niat dan amal perbuatan hanya karena dan akan kembali kepada-Nya.
Sekali lagi, seharusnya, puasa adalah sebagai sarana pelatihan dan penggemblengan kepada pengendalian serta pembentukan kedisiplinan jiwa agar dapat mencapai kesadaran penuh pada keutamaan kemurnian atau keikhlasan berserah diri dalam shalat-nya, ibadah-nya, hidup-nya, dan mati-nya adalah karena dan untuk Allah semata. Sebagai perwujudan di alam dari Dia Yang Maha Terpuji dan Mulia melalui insan kemanusiaan yang saling menebarkan rahmat-Nya kepada sesama sesuai fitrah-nya, rahmatan lil ‘aalamiiyn.




Bab XI
ZAKAT
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
(QS 3:92)
A
da sebuah cerita yang membuat tercengang, ketika seorang tamu bertanya, “bagaimana keadaanmu?”.  Sang tuan rumahpun menjawab, “al-hamdulillah, jika aku memperoleh rezeki maka aku makan, dan jika tidak, aku bersabar”. Maka si tamu-pun kembali menyambung dengan berkomentar, “begitulah anjing-anjing yang ada di kampung kami. Tetapi lain halnya dengan orang-orang di sana, jika memperoleh rezeki dari Tuhannya dibagikannya kepada yang butuh, dan bila tidak memperoleh rezeki, mereka bersyukur”.
Zakat adalah pensucian, maknanya akan jadi berbeda bila diartikan sebagai penyucian atau pencucian. Pensucian lebih kepada pembersihan bathin, yang tak kelihatan, yaitu jiwa-nya. Sedangkan penyucian atau pencucian jelas nyata kelihatan dan lebih menunjuk kepada adanya kekotoran terlebih dahulu, barulah kemudian dibersihkan. Pembersihannya pun lebih condong kepada materi. Bukanlah harta yang sesungguhnya dibersihkan atau disucikan dalam berzakat, melainkan jiwa-nya. Ya, jiwa-lah yang sesungguhnya menerima anugerah harta-benda, bagaimanapun cara-cara dalam mendapatkannya. Hanya saja yang dikeluarkannya atau dalam menunaikannya haruslah dengan kelebihan harta atau materi yang dimilikinya sebagai bentuk kepeduliannya kepada yang lemah dan berkekurangan.
“.....sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”  (QS 91:7-10)
Makna pensucian lebih kepada bathin, adalah memurnikan secara ikhlas (bathin) segala niat yang merupakan anugerah yang diberikan Allah, sebelum dikeluarkan dalam bentuk gerak amal perbuatan yang juga merupakan anugerah-Nya, dari kekotoran hawa nafsu pengakuan (ego) sebagai penyebab utama segala bentuk penyesatan dari jalan lurus-Nya. Jadi suci-nya niat dan amal perbuatan yang sedari awal, jelas ini adalah tindakan menghindari penyakit. Bukan setelahnya, barulah kemudian disucikan akibat adanya kekotoran.
Sedangkan makna penyucian atau pencucian, lebih kepada ada terlebih dahulu kekotoran atau kecacatan yang melekat pada niat dan amal perbuatan, maka barulah dibersihkan. Dan ini adalah tindakan mengobati penyakit. Itulah perbedaannya. Disini, dosa telah ada, maka merasa perlu untuk disucikan.
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas semata-mata karena menjalankan agama, yitu berlaku lurus, shalat (mengingat) Allah yang tiada putus, dan  mensucikan (apa-apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya), dan yang demikian itulah agama yang benar (Diynul Qayyimaah)”. (QS 98:5)
Segala sesuatu, amal perbuatan baik atau buruk, sekecil atau seringan apapun, memiliki akibat (ganjaran). Dan itu adalah ketetapan-Nya sebagai yang mutlak dari Yang Maha Adil. Selain itupun, Dia adalah Maha Bijaksana, maka Dia-pun mengingatkan dengan petunjuk-petunjuk, kitab, dan nasehat-nasehat, bahkan dengan kesulitan atau kesempitan, yaitu, berhentilah memperbanyak hutang dosa dan mulailah dengan sebanyak-banyaknya menabung kebaikan (pahala).
“Tahukah kamu (perbuatan) yang mendustakan agama? Maka itulah yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan( memberikan) bantuan. (QS 107:1-7)
Kebanyakan kita telah salah memahami, bahwa mensucikan-nya hanya dengan membayar zakat-nya, dan zakat pun dimaknai dengan harta-benda. Padahal, inti maknanya adalah mensucikan, salah satunya adalah membayar sebagai cara bagi yang ‘terlambat’ mensucikan anugerah Tuhannya, sehingga kekotoran masuk mencemari anugerah tersebut. Disucikan karena ada kekotoran, ada yang dengan membayar-nya dengan uang (zakat, sedekah dan infak), fidiyah (memberi makan orang miskin), ataupun puasa.
Bila diri telah melaksanakan perintah-Nya, dan menjalankan agama dengan ikhlas (QS 98:5), serta tidak pula dikotori oleh perbuatan yang mendustakan agama (QS 107:1-7), maka tidak ada lagi tindakan membersihkan (penyucian atau pencucian), melainkan karena diri-nya telah selalu mensucikan atau menghindari kekotoran dengan cara berlaku lurus, mengingat-Nya yang tiada putus, mensucikan segala anugerah-Nya, serta pada perbuatan seperti mengayomi anak yatim, mendorong memberi makan orang miskin, hilangnya pengakuan (ego), dan mudah dalam memberikan bantuan kepada sesama, serta banyak amal perbuatan baik lainnya yang berupa kebajikan yang dapat dilakukan secara murni dan ikhlas. Menunaikan zakat-nya tidak lagi karena terlambat, tetapi karena kepekaan kesadaran-nya telah semakin tajam terhadap sekitarnya.
“Yang menafkahkan hartanya untuk membersihkan, dan tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetepi karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan niscaya dia akan mendapat kesenangan sejati”. (QS 92:18-21)
Kehidupan ini adalah merupakan lanjutan kehidupan sebelumnya, serta amat sangat mempengaruhi pada kehidupan selanjutnya. Hari ini adalah karena hari kemarin, dan hari ini menjadi penentu hari esok. Begitu seterusnya baik dilihat ke belakang maupun dilihat ke depan sampai kepada kematian, maka beruntunglah mereka yang mensucikan jiwa-nya, dan merugilah mereka yang mengotori jiwa-nya (QS 91:7-10).
Dan kematian pun, sebagai akhir hidup, terus belanjut mengalami suatu fase penantian untuk dibangkitkan kembali menjalani kehidupan selanjutnya dengan membawa beban dosa atau nikmat pahala sebagai akibat bawaan perbuatan sebelum kematiannya. Dan itu terus berulang sebagai siklus hidup-mati (kebangkitan) sebagai pembersihan (suci) jiwa untuk mencapai kesempurnaan sejati, sebagai syarat mutlak  agar dapat kembali pulang kepada yang Maha Tunggal.
..... Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS 9:34)
Diri-diri yang masih kuat melekat pengakuan (ego)-nya, yang gemar mengumpulkan harta-benda, dan yang mengikuti hawa nafsu ego-nya dengan menumpuk harta benda karena takut akan kekurangan, kelaparan, dan kesulitan pada hidupnya dikemudian hari. Mereka adalah seperti seorang yang mengalami obesitas (kegemukan), tubuhnya dipenuhi lemak (cadangan sumber makanan) yang justru membahayakan hidup-nya, menghalangi kelancaran aliran darah dan sirkulasi pernafasannya, yang malah merupakan sebagai penyebab banyak penyakit yang siap menggerogoti tubuh-nya. Sebagai yang akan menyulitkan diri-nya sendiri. Juga tak enak dipandang oleh pihak lain atau sedikit mengganggu.
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah kebenaran, (maka) sama dengan orang buta (mengetahui)? Hanya orang-orang yang berakal sajalah yang dapat mengambil pelajaran.(QS 13:19)
Bukan mereka tak menyadari, akan tetapi pengakuan (ego)-nya telah kuat mendominasi dan mengalahkan pemahaman akal di hatinya, bahkan petunjuk-petunjuk dari Tuhannya yang merupakan suatu kebenaran yang mutlak sebagai kebenaran sejati. Harta bendanya sungguh akan menjadi sumber penyakit yang mengundang bermacam-macam keburukan. Selain membuat silau pandangan pihak lain, melainkan pula banyak timbulnya pengaruh buruk pada kejiwaan-nya sendiri dan keluarga.
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia, niscaya di akhirat akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan (kebenaran).”  (QS 17:72)
Rasa takut dan keresahan akan kehilangan jelas pasti meliputi dan menghantui-nya. Keserakahan atau tamak, kesombongan dan riya pun akan mengiringi. Belum lagi, salah dalam pengelolaan, menggunakan dan memanfaatkannya kepada jalan yang sesat dan semakin menyesatkan jiwa-nya. Pola hidup diri dan keluarganya akan banyak berubah dan semakin terjerumus lebih dalam tanpa disadarinya. Dan hanya kepada-Nya sesungguhnya arah tujuan tempat-nya kembali.
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (atom), niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa melakukan pula kejahatan seberat zarrah (atom), niascaya dia akan melihat (balasan)-nya. (QS 99:7-8)
Segala sesuatu, sekecil apapun akan terbalas sebagai ketetapan (sunathullah) dari Tuhannya yang adil dan bijaksana. Itulah makna neraka dan surganya yang merupakan suasana rasa bathin. Sedangkan suasana tempat atau alam tidaklah penting, dengan segala kemewahan ataupun serba keterbatasan, tetaplah rasa bathin yang merasakan. Sekalipun segala kemewahan merupakan balasan pula, tidak menjamin bathinnya telah terbebas dari rasa kesulitan, kekurangan, kesengsaraan, maupun dosa. Karena mereka melanjutkan kehidupan tersebut masih dalam suasana  pembersihan atau penyucian  jiwa.
Itulah bahayanya pengakuan (ego) terhadap apa-apa yang ternyata hanyalah titipan atau amanah yang dianugerahkan kepadanya untuk dikelola dengan baik dan benar, serta tidak untuk diakui kepemilikannya. Bahkan kepada jasad, jiwa, serta ruh yang ternyata milik Allah, tidak untuk diakui sebagai miliknya sendiri. Apalagi kepada harta benda, perhiasan, kendaraan, anak-istri, ladang pekerjaan, perniagaan, kekuasaan, dan lain sebagainya yang dianugerahkan kepadanya.
...... dan orang-orang yang dalam hartanya menyiapkan bagian tertentu, bagi orang-orang yang meminta dan yang tidak meminta, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut azab Tuhannya, sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seorangpun yang merasa aman”. (QS 70:24-28)
Harta-benda, yang dipandang dan menjadi ukuran sebagai salah satu hasil atau wujud dari jerih payah usaha atau amal perbuatan setiap diri insan kemanusiaan. Akan tetapi yang perlu disucikan tidak hanya itu, melainkan pula tenaga atau kekuatan yang menggerakkan (daya)-nya, niat atau rencana yang masih bathin (karsa)-nya, kemudian upayanya yang menghasilkan (cipta)-nya. Yang sesungguhnya, kesemuanya tersebut, adalah anugerah dari Allah yang Maha Pemurah dan Penyayang.
Makna zakat takkan berarti apa-apa, dan takkan menyentuh hati, bila di dalam bathinnya tiada kepekaan kesadaran hatinya, bahwa segala sesuatu selalu berhubungan dan memiliki sebab akibat, sekecil apapun segala sesuatu tersebut. Baik itu amal perbuatannya, apa-apa yang ditahan hatinya, dan sekalipun baru berupa niat. Karena ketiganya tersebut pun memancarkan energi, atau telah mengeluarkan energi-nya, dan itulah yang diketahui oleh-Nya sebagai Yang Maha Mengetahui.
Kepekaan kesadaran jiwanya terhadap sekitarnya, dan pengaruh diri-nya terhadap kehidupan sekitarnya pun sebagai ikut berperan dalam kehidupan bersama yang menciptakan saling berbagi merasakan rahmat Tuhan bersama dengan sesamanya. Besar kecilnya apa-apa yang dikeluarkannya sebagai wujud syukurnya adalah sebanding dengan apa-apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Serta apa-apa yang dimilikinya sebagai anugerah Tuhannya tersebut adalah juga sebagiannya merupakan hak para fakir-miskin, anak-anak yatim, mereka yang lemah dan dalam kesulitan.
Yang dituju dari zakat ini adalah kebersihan diri atau jiwa dengan kepekaan kesadaran-nya untuk selalu berbagi rahmat Tuhannya kepada sesamanya, terutama memberikan bantuan kepada yang berkekurangan, yang membutuhkan, dan yang lemah tak berdaya. Menafkahkan sebagian rezeki yang dimiliki sesuai jalan lurus-Nya, tidak akan mengurangi atau menghilangkan apa-apa yang dimilikinya tersebut. Tidak ada kerugian pada jalan lurus-Nya tersebut. Ibarat memberikan uangnya kepada Bank untuk ditabung, uangnya memang tidak dipegangnya lagi akan tetapi kepemilikannya akan tercatat, dan bila suatu waktu diperlukan akan kembali kepadanya.
Dan yang perlu di-garisbawahi zakat, infak dan sedekah, adalah termasuk dalam menafkahkan sebagian rezeki yang diterima dari Tuhannya. Pengertian atau makna menafkahkan adalah menginvestasikan, dan investasi dengan Allah dijamin takkan merugi, bahkan keuntungan yang akan didapatnya berlipat ganda, sampai 700 kali lipat. Tentu dengan rasa ikhlas dalam menginvestasikan-nya hanya di jalan-Nya yang lurus. Bank manakah yang berani memberikan bunga sampai 700 kali lipat nilai investasi?
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus butir biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  (QS 2:261)
Keuntungan berlipat ganda tersebut barulah dalam bentuk materi, Allah pun memberikan keuntungan lainnya yang dalam bentuk rasa bathin yang pasti tidak kalah luar biasanya. Maka diri-diri kita sendirilah yang dapat melukiskan rasa-nya tersebut. Itulah surga dunia-nya. Bila jalan lurus-Nya ini telah memasyarakat, bayangkanlah. Akan tercipta kehidupan bersama yang sehat dan murah, itulah wujud berserah diri (islam) yang rahmatan lil ‘aalamiiyn. Tetapi hal ini akan terasa nyata kebenaran manfaat-nya oleh mereka yang telah kokoh keimanan-nya.
Tiada sesuatu pun yang lepas dari kuasa dan kehendak-Nya. Selama jiwa masih dilekati oleh kekotoran sekecil apapun, maka tetaplah dia harus melanjutkan kehidupannya untuk disucikan. Maka dia mengalami neraka sekaligus surga-nya dalam kehidupan di hari kemudian. Itulah balasan dari yang Maha Adil lagi Bijaksana. Yang tidak dikurangi atau dilebihkan sedikitpun apa-apa yang harus diterima sebagai buah dari amal perbuatan sebelumnya dari setiap diri, apakah itu amal perbuatan baiknya maupun amal perbuatan buruknya.
“.....sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”  (QS 91:7-10)
Sebaliknya, bagi yang telah sadar diri atau jiwa-nya, dan yang berusaha memurnikan amal perbuatannya, suci dari segala macam pengakuan (ego), dan tetap menjaga kesadaran (ingat)-nya pada diri yang sesungguhnya adalah kefanaan, hampa, kosong, dan bukanlah siapa-siapa bila tanpa gerak para penyampai, yaitu aparat Allah atau malaikat dan rasul-Nya, petunjuk melalui kitab-Nya, menyadari hari akhir dan hari kemudian-Nya sebagai waktu menuai segala amal perbuatan sebelumnya, serta baik dan buruk sebagai yang harus dapat diterimanya, maka tiada lagi dia berharap kelak mendapatkan surga dan tiada pula resah terhadap ketakutannya akan mendapatkan neraka. Diri-nya merasa hanya menjalankankan apa adanya, sesuai dengan perintah dari dalam kalbu-nya yang paling dalam, yang tanpa beban, serta penuh kedamaian dan ketentraman yang sejati.
“.... Barangsiapa menyerahkan diri ‘sepenuhnya’ kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak pula bersedih hati. (QS 2:112)



Bab XII
HAJJI
(bila mampu)
“Dan serulah setiap diri kemanusiaan untuk mengerjakan hajji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,”
 (QS 22:27)
I
badah hajji adalah merupakan tahap puncaknya pelatihan dalam mencapai keberserah dirian (islam). Ini disebut sebagai puncaknya pelatihan, sebab, selain sebagai rukun berserah diri (islam) yang terakhir, juga, ibadah hajji ini ditutup dengan ber-qurban sebagai lambang kemurnian (keikhlasan) berserah diri atau islam.
Sekarang ini, untuk melakukan ibadah hajji semakin terasa berat dan sulit. Tidak semudah sebelumnya, tidak dibatasi kuota bagi masing-masing negara. Di negara kita, harus mengantri (indent), menunggu giliran hingga tiga tahun lamanya. Bila yang punya duit saja masih diberi kesulitan, apalagi yang belum punya biaya tetapi berharap bisa melaksanakannya di suatu waktu. Allah Maha Tahu, hanya Dia-lah yang akan memudahkan bila tiba waktunya untuk dapat mampu melaksanakan ibadah hajji, sebagai panggilan dari-Nya.
Kemampuan-nya adalah karena diberi kemampuan yang diberikan Allah, juga adalah anugerah yang tetap perlu dipertanggung jawabkan, kelak. Kehendak serta ketetapan-Nya (sunathullah) meliputi segala sesuatu, termasuk anugerah dan karunia-Nya kepada setiap diri. Dan pada ibadah ini, yang bermakna luas sebagai pembelajaran diri agar dapat membaur serta berintraksi secara sehat bersama keragaman-keragaman yang terdapat di alam, yang pasti ditemui-nya dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Kemampuan berinteraksi dan beradaptasi tanpa keluar atau menyimpang dari arah jalan lurus-Nya, bersama-sama saling menebarkan kebaikan yang merupakan rahmat karunia dari Tuhannya Yang Raahman dan Rahiim. Menyadari alam yang penuh keragaman akan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, yang sesungguhnya pula sebagai perwujudan Dia yang Akbar, sebagai yang bersama-sama ikut pula mengabdi seperti diri-nya, dengan selalu bertasbih dan mengagungkan Tuhan.
Pembelajaran agar memahami, bahwa diri-nya adalah bagian dari susunan keseluruhan alam semesta yang ada dalam sistem ketetapan ciptaan-Nya, atau Af’al Tunggal dari Dia Yang Maha Tunggal. Dari atom, sebagai materi terkecil, sampai kepada bintang wujud benda langit terbesar, semuanya sebagai yang tunduk patuh pada hukum dan ketetapan-Nya (sunathullah), seluruhnya mengarah pada yang Maha Tunggal.
“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pepohonan, binatang-binatang melata, dan sebagian besar dari manusia? ...........” (QS 22:18)
Ibadah hajji, di dalamnya banyak mengandung keutamaan atau makna dari kisah-kisah Ibrahim dan keluarganya, yang sesungguhnya adalah sebagai sarana pelatihan dan pengajaran yang berguna bagi kehidupan keseharian kemanusiaan sebagai wujud keberserah dirian (islam)-nya. Insya Allah, makna-makna tersebut dapat dipahami dan menjadikan ibadah-nya diterima-Nya sebagai Hajji Mabrur, dan dapat membawa-nya terus di kehidupan kepada amal perbuatan-nya yang mabrur pula. Dan bagi mereka yang belum dapat melaksanakan panggilan-Nya ini, namun akan mendapatkan makna-makna yang amat berguna bagi kehidupannya dan merupakan maksud inti dari penyelenggaraan ibadah hajji ini. Keutamaan tersebut mengandung makna-makna, diantaranya adalah,
Makna Diri yang Polos (Suci)
Pakaian Ihram yang dikenakan ketika beribadah hajji, adalah lambang kepolosan atau kesucian bagi setiap insan kemanusiaan, sebagai kehendak Allah agar setiap diri menyadari fitrah sesungguhnya yang ada pada diri-nya.
Pada masa pra (sebelum) kenabian Muhammad SAW, malah dilakukan dengan telanjang bulat, tanpa sehelai pakaian pun. Hal ini, mungkin merupakan persepsi yang berlebihan dalam memahami petunjuk agama-nya. Dan setelah kenabian-nya, beliau pun merubah cara ritual peribadatan lama yang menyesatkan, seperti itu, tanpa menghilangkan makna-makna yang dikehendaki Allah kepada setiap diri kemanusiaan.
“Wahai Ahli Kitab ! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, ......”. (QS 4:171)
Menyadari fitrah dirinya yang merupakan wadah kosong yang telah disempurnakan kejadian-nya, kemudian barulah diisi (ditiupkan) ruh Allah sebagai perwujudan sifat-sifat Allah (QS 38:71-72), yang merupakan rahmat bagi semesta alam. Untuk dapat mengenal diri-nya, maka kenalilah Tuhan-nya. Dan untuk dapat mengenal Tuhan-nya, maka kenalilah diri-nya. Setelah mengenal keduanya, maka hikmah sejati telah terbuka sebagai sesuatu yang amat tak ternilai.
“...... Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya Ruh-Ku, maka hendaklah kamu (malaikat) tersungkur dengan bersujud kepadanya.”    (QS 38:71-72)
Sempurnanya kejadian wadah kosong (jasad) insan kemanusiaan, adalah sempurna terbentuknya organ-organ tubuh-nya sebagai pendukung kehidupan sehingga layak menerima hidup dari-Nya. Jadi jelaslah, bahwa hidup diri kemanusiaan adalah karena ruh-Nya, yang pada suatu waktu nanti, yang telah ditetapkan-Nya, akan kembali lagi kepada Dia yang memiliki, begitu pun jiwa yang telah dapat selalu bersama-Nya (manunggal), akan ikut bersama ruh-Nya kembali pulang. Akan tetapi pada jiwa yang tersesat dan terlena pada kehidupan dunia, maka akan tertinggal di alam dunia, sebagai jiwa tanpa jasad yang masih penasaran pada keduniaan-nya, menggapai tidaklah bisa, dan kembali pulang pun tidak bisa. Terjebak pada kesesatan-nya sendiri.
Diri, juga merupakan wadah yang menerima anugerah dari Allah, berupa, wujud sebagai kewujudan, hidup sebagai kehidupan, ilmu sebagai keilmuan, kuasa sebagai kekuasaan, dan lihat maka dapat melihat, dengar maka dapat mendengar, ucap maka dapat mengucap, dan lain-lainnya yang merupakan anugerah yang sesungguhnya hanyalah titipan yang pada saatnya nanti akan diminta pertanggung jawabannya. Janganlah pengakuan (ego) menjadi dominan berlebihan hingga malah menjerumuskan diri pada kesesatan dari jalan lurus-Nya.
Adalah nyata-nya ketiadaan sesungguhnya insan kemanusiaan. Karena hanya Dia yang wujud, sedangkan selain-Nya adalah fana (berubah-ubah), menerima wujud-Nya, serta merupakan perwujudan-Nya, bahkan hidup-nya adalah karena diberi kehidupan oleh-Nya. Dari ujung kaki hingga ujung rambut adalah anugerah wujud dari perwujudan-Nya, dan tidak secuilpun yang dimiliki serta dikuasai oleh dirinya sendiri. Jangankan memiliki, memberikan rizkinya pun bukanlah dirinya yang sebagai pemberinya, melainkan Allah-lah pemberinya. Bukan pula dirinya yang memerintahkan kepada kuku-kukunya untuk bertumbuh panjang, kepada rambut untuk bertumbuh panjang, kepada jantung untuk memompa darah dan mengalirinya ke seluruh tubuh, bukan pula dirinya yang memerintahkan sel-sel tubuhnya untuk membelah diri sebagai pengganti sel-sel lainnya yang telah mati.
Diri ini hanya menerima saja semua itu berlangsung tanpa pernah, bahkan merasa ikut berperan. Maka sungguh naif, tidak layak dan pantas, merasa mengaku-ngaku sebagai pemilik, penguasa, dan pemerintah dari rakyat yang berupa milyaran sel yang membentuk organ dan jaringan seperti, jantung, paru-paru, mata, telinga, mulut, kulit, tulang, otot, dan lain sebagainya. Itu seluruhnya adalah anugerah yang dititipkan, yang suatu saat, kelak, pasti akan diminta pertanggung jawabannya. Hanya rasa yang sampai kepada diri, yaitu nikmat bila seluruh rakyat-nya sehat, dan sengsara bila salah satu rakyat-nya sakit. Pengakuan (ego)-lah yang menyebabkan rasa menjadi dominan hingga tak terkendali, nikmat dapat menyebabkan keangkuhan atau riya, dan sengsara yang dapat menyebabkan kekufuran. Itulah akibat pengakuan (ego) yang mengaku-aku sebagai pemiliknya.
Kebanyakan diri terlena dan memanjakan keinginan-keinginan jiwa (hawa nafs)-nya, sehingga mau berbuat untuk orang lain bila ada keuntungan bagi diri-nya. Dan bila sedikit keuntungan yang didapat-nya, maka dia melakukannya dengan setengah hati atau malas, tidak berusaha sebaik bila besar keuntungan yang akan diterima-nya. Kemurnian atau keikhlasan dalam berbuat pun menjadi tidak ada, maka rasa tidak ikhlas-nya tersebut pun akan kembali kepada diri-nya. Seperti masakan yang kurang bumbu dan garam, menjadi hambar tiada rasa. Tiada spirit (ruh) dalam mengerjakannya. Maka akibat-akibat buruk lainnya akan siap-siap mendatanginya, menyusul kemudian.
“....sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk (karena) Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS 6:162-163)
Ketiadaan diri sebenarnya adalah telah hilangnya pengakuan (ego), dan mengakui yang ada (wujud) hanya milik Allah. Bahkan nafsu (nafs) pun adalah milik-Nya, karena itu selalu luruskan dan ingatilah Dia. Kemudian sucikanlah sebelum dipertanggung jawabkan kelak. Hidup dan kehidupan pada kemanusiaan, sesungguhnya, hanyalah menerima. Yaitu, menerima segala sesuatu baik disadari maupun tidak, juga baik sukarela maupun terpaksa.
Bila dirinya lebih memaksakan kehendak hawa nafsunya atau lebih memaksakan keinginan buruknya, maka menerima akibat atau balasannya pun akan secara terpaksa. Memaksakan dan keterpaksaan itulah sebagai dosa yang ditanam dan yang akan dituai-nya. Hilangnya pengakuan (ego), adalah dengan melenyapkan aku-nya, dan lebih menghidupkan Aku-nya, maka setiap gerak laku (amal perbuatan)-nya adalah perwujudan sifat-sifat Dia yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Makna Tauhid (Yang Maha Tunggal)
Ka’bah adalah perlambangan sebagai pusat atau sumber segala sesuatu mengarah untuk kembali pulang. Karena, Dia-lah Yang Maha Tunggal sebagai awal segala sesuatu bersumber, dan arah tujuan segala sesuatu kembali pulang.
Dia-lah Allah yang Maha Tunggal, Allah tempat meminta (bergantung) segala sesuatu, tidak ber-anak dan tidak diper-anak-kan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.
Ibadah Hajji ini, pada saat mengelilingi Ka’bah (tawaf), adalah pembelajaran agar memahami, bahwa diri-nya adalah bagian dari struktur makro semesta alam yang ada dalam sistem siklus ciptaan-Nya (sunathullah), atau Af’al Tunggal dari Dia Yang Maha Tunggal. Dari mulai atom, sebagai salah satu materi terkecil, sampai kepada bintang wujud benda langit terbesar, semuanya sebagai yang tunduk patuh pada hukum dan ketetapan-Nya (sunathullah), seluruhnya mengarah kepada yang Maha Tunggal.
“Dan apakah orang-orang yang kafir (tertutup hati dan akalnya) tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu dahulunya adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya ........(QS 21:30)
Semesta alam ini, yaitu langit dan bumi, diciptakan-Nya dari sesuatu yang padu (satu wujud), kemudian Dia pisahkan menjadi dua wujud (langit dan bumi). Dalam bahasa ilmiah uraiannya menjadi, dari cahaya-Nya (sebagai sesuatu yang padu), dengan partikel-partikelnya yang ber-massa berat dan ber-massa ringan sebagai penyusun struktur cahaya, Allah memisahkan keduanya melalui ketetapan hukum-Nya, yang bermassa lebih berat berkumpul menyatu kemudian membentuk bumi. Sedangkan yang bermassa jauh lebih ringan memisahkan diri semakin menjauhi massa yang lebih berat (melawan gaya grafitasi karena terdesak keluar oleh yang lebih berat) dan kemudian membentuk langit. Proses ini seperti proses terbentuknya lapisan atmosfir, yang berlapis-lapis sesuai berat massa-nya.
Allah menyebut diri-Nya sebagai Kami pada penjelasan ayat di atas, yang bermakna Dia menugaskan pekerjaan ini kepada para aparat (malaikat)-Nya. Keyakinan (iman) adanya malaikat telah diuraikan panjang lebar pada bab keimanan, sebelumnya, dan akan lebih sedikit detail lagi diulas pada bagian ke 4 Lahir & Bathin di belakang. Termasuk pekerjaan-pekerjaan yang diperintahkan Allah kepada mereka sebagai tugas yang diembannya bagi keberlangsungan secara keseluruhan sistem kerja semesta alam.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kamu kepada Adam! Maka merekapun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir”. (QS 2:34)
Malaikat, secara ilmiah, adalah merupakan energi (energi cahaya), yang bersumber dari cahaya-Nya (nur Allah), yang meliputi dan menggerakkan  segala sesuatu di alam raya ini yang hanya atas perintah dan kehendak-Nya. Itulah, sesungguhnya yang dimaksud dengan kata ‘Kami’ pada setiap firman-Nya. Dan melimpahnya cahaya yang menuju bumi, baik siang dan malam, membuktikan begitu banyaknya pekerjaan malaikat bagi memudahkan kehidupan kemanusiaan di bumi, sesuai dengan perintah Allah agar mereka tunduk sujud kepada kepentingan kemanusiaan (QS 2:34). Akan tetapi, perlu diingat, segala sesuatu Allah ciptakan bersama pasangannya, bahwa ada pula yang sebagai pembangkang yang menolak tunduk sujud, yaitu sebagai yang disebut iblis, yang justru timbul dari kuatnya hawa nafsu kemanusiaan itu sendiri, yang malah menyesatkan dirinya  pada kecelakaan.
Jadi berdasarkan ayat QS 21:30, dengan cahaya-Nya (nur Allah), Dia menciptakan malaikat sebagai aparat-Nya, disebut pula nur Cahya. Kemudian Dia perintahkan aparat-Nya untuk bekerja memisahkan dan membentuk bumi dan langit beserta isinya, yaitu semesta alam yang penuh berisi partikel struktur cahaya-Nya, sebagai sumber penciptaan atau pembentukan segala sesuatu isi semesta alam melalui ketetapan-Nya (sunathullah). Istilah ilmiahnya adalah proses gravitasi semesta, yaitu gerak berkumpul atau gaya tarik menarik antar partikel-partikel cahaya ke masing-masing pusat kawasan yang tersebar, disinilah proses persenyawaan antar partikel membentuk senyawa-senyawa kompleks. Maka terbentuklah bintang-bintang di dalam banyak kawasan yang disebut galaksi. Seluruh benda langit ini berasal dari partikel-partikel cahaya-Nya (nur Allah). Hingga pada pembentukan senyawa-senyawa yang jauh lebih kompleks lagi, apalagi setelah ada atau terbentuknya air di bumi, yaitu sebagai unsur-unsur dasar kehidupan, dari mulai tumbuh-tumbuhan sampai kepada hewan bersel tunggal, bahkan semakin jauh lebih kompleks yang terdiri dari milyaran sel, hingga penciptaan manusia.
“Sungguh Kami telah menciptakan insan kemanusiaan dalam bentuk yang sesempurna-sempurnanya.”  (QS 95:4)
Seluruh pemahaman tersebut, bersumber dan mengarah kepada Dia Yang Maha Tunggal, baik karena terpaksa maupun secara sukarela. Hanya karena, pada diri kemanusiaan, struktur unsur pembentuk sel-selnya yang amat-teramat kompleks, maka lebih kompleks pula untuk dapat menyadari keberadaan dan kuasa-Nya, kecuali hanya karena petunjuk yang atas kehendak-Nya. Dan ini merupakan salah satu dari sarana-sarana pelatihan keberserah dirian (islam), seperti lebih menyatakan syahadat tidak hanya sekedar pernyataan-nya saja, shalat juga yang direfleksikan  dalam setiap gerak amal perbuatan, puasa untuk menekan segala keinginan yang tak terkendali, zakat mensucikan segala niat sebelum bergerak kepada amal perbuatan, ibadah haji untuk keberserah dirian melalui ber-qurban yang sesungguhnya adalah kenyataan, bahwa hidup adalah pengorbanan. Yang ternyata kesemuanya adalah mengarahkan diri menghilangkan pengakuan (ego)-nya. Yaitu dengan melenyapkan aku-nya, dan lebih menghidupkan Aku-nya, maka setiap gerak laku (amal perbuatan)-nya adalah perwujudan sifat-sifat Dia yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Menyadari bahwa diri kemanusiaannya adalah wakil-Nya yang mewujudkan sifat-sifat Tuhan di alam, dan sebagai khalifah di muka bumi yang rahmatan lil ‘aalamiiyn. Seperti itulah fitrah kemanusiaan yang telah ditetapkan Allah.
“Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) kemudian darianya Dia ciptakan pasangannya dan Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untukmu, Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (sanggup berbuat) demikian itulah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka mengapa kamu dapat dipalingkan?(QS 39:6)
Makna Akbar (Keragaman)
“Katakanlah, kami beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang diturunkan (dianugerahkan) kepada kami, dan kepada apa-apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, dan kepada apa-apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya.”  (QS 2:136)
Kumpulnya berbagai kaum, etnik, dan bangsa dari seluruh penjuru dunia saat melaksanakan ibadah Hajji. Dengan membawa keragaman warna kulit, logat dan bahasa, tabiat, dan lain sebagainya yang juga merupakan keragaman perbedaan yang menambah hidupnya suasana di Masjidil Haraam. Itulah kenyataannya, agama Allah yang merangkum diri-diri dengan aneka keragaman dan perbedaan, dari mulai makanan, warna kulit, logat, bahasa, sampai kepada watak tabiat.
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia sebagai umat yang satu, tetapi mereka selalu berselisih pendapat. (QS 11:118)
Adalah sebagai pembelajaran diri agar dapat membaur serta berintraksi secara sehat bersama keragaman-keragaman sekaligus bersama perbedaannya yang terdapat di alam, yang pasti ditemui-nya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Kemampuan berinteraksi dan beradaptasi tanpa keluar atau menyimpang dari arah jalan lurus-Nya, bersama-sama saling menebarkan kebaikan yang merupakan rahmat karunia dari Tuhannya Yang Raahman dan Rahiim.
Menyadari alam yang penuh keragaman akan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, yang sesungguhnya pula sebagai perwujudan Dia yang Akbar, sebagai yang bersama-sama ikut pula mengabdi seperti diri-nya, dengan selalu bertasbih dan mengagungkan Tuhan.
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS 17:44)
Memahami betapa akbar, semesta alam ini amat dipenuhi oleh kekayaan dan keragaman segala sesuatu yang tak terkira banyaknya. Yang bila semakin dihitung, maka semakin takkan pernah habisnya selesai terhitung. Dan bila semakin ingin diketahui, maka semakin pula tidak selesai dapat tersimpulkan. Semakin kaya dan beragamnya alam ini, dengan pula perbedaan-perbedaan antara satu dengan yang lainnya, membuat bervariasi dan semakin sempurna terlihat keindahannya. Sekalipun tak terhitung dan tak terpahami, tetapi nikmat-nya yang sampai kepada diri sebagai yang merasakannya, dan rasa syukur yang berisi puji-pujian yang mengarah kepada Dia sang Pencipta langit dan bumi beserta segala sesuatu isinya.
Tahap kesadaran ini seharusnya membawa insan kemanusiaan kepada rasa kebersamaan yang merupakan bagian dari setiap keragaman dan perbedaan-nya sebagai pengisi keindahan sistem semesta, melenyapkan pengakuan (ego) rasa eksklusivitas dan suprioritas-nya, dan melenyapkan ego kepentingan diri-golongan-etnis-bangsa sendiri, serta lebih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan secara global, demi keseimbangan sistem semesta yang mengarah kepada Dia Yang Maha Tunggal.
“Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.” (QS 55:7-9)
Diciptakan-Nya berbagai macam keragaman dan perbedaan, tentu bukanlah dengan maksud terciptanya kondisi atau keadaan mereka yang saling bertentangan hingga saling merusak dan melenyapkan. Merasa paling benar sendiri, merasa paling hebat sendiri, merasa paling pintar sendiri, dan lain-lainnya yang lebih mengutamakan pengakuan (ego)-nya ketimbang rasa kebersaman inilah yang menyebabkan terganngunya sistem keseimbangan kehidupan yang justru yang akan kembali kepada diri-nya sendiri sebagai yang menuai bencana. Bukan itu yang dikehendaki Tuhan.
......... Seandaianya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian kaum kepada sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gerja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi (sinagoga), dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa”. (QS 22:40)
“Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong.”  (QS 42:8)
Dia ingin kita memahami dan mengetahui keindahan yang sempurna hanya bisa didapat dari berbagai keragaman dan perbedaan yang selalu diiringi rasa kebersamaan. Bersama-sama di satu tempat (alam) dalam kebaikan, sebagai suatu yang berpadu, yaitu keindahan yang sempurna. Berbagai keragaman dan perbedaan bukanlah hal yang buruk yang harus dihindari, justru keduanya adalah rahmat dari Tuhan yang dapat memperkaya khasanah segala sesuatu di dalam kehidupan. Bukanlah keseragaman monoton yang membosankan. Keragaman adalah Sifat Tunggal Dia, yaitu Allahu Akbar (pada bab keimanan). Bukan disebut sebagai keragaman jika tak ada perbedaan atau seragam. Tidaklah sulit jika Dia menghendaki keseragaman. Hal ini sama tidak sulitnya dengan jika Allah menghendaki kemanusiaan ini menjadi satu umat. Maka jawaban Dia-pun, tersirat di dalam firman-Nya, yaitu seperti bunyi ayat di bawah ini.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu? Dia berfirman, sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30)
Jika Allah hanya menghendaki yang tunduk patuh atau berserah diri saja yang memenuhi alam-Nya ini, maka cukuplah adanya malaikat, yang telah selalu bertasbih memuji dan mensucikan nama-Nya, tak perlu menciptakan kemanusiaan yang tak pernah merasa puas. Akan tetapi, Dia menginginkan pada insan kemanusiaan, yang merupakan wujud ciptaan-Nya yang sungguh amat-teramat kompleks lahir dan bathin-nya, yang sesempurna-sempurnanya (QS 95:4), pada akhirnya dapat menjadi perwujudan Dia Yang Maha Terpuji di alam. Yaitu yang saling menebarkan rahmat-Nya kepada sesama-nya, sebagai rahmatan lil ‘aalamiiyn.
Makna Godaan
Dalam keberserah dirian-nya, Ibrahim sebagai yang hendak ber-qurban atas perintah Allah dan telah ikhlas, serta Ismail sebagai yang hendak dikorbankan pun telah ikhlas karena perintah Tuhannya, mereka berdua tidaklah lepas dari godaan iblis yang berusaha menggagalkan ibadah mereka. Dan mereka berdua pun membalas iblis dengan melemparinya menggunakan batu-batu kerikil agar iblis pergi menjauh dan tidak menghalangi ibadah mereka.
“(Iblis) menjawab: demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambamu yang ikhlas diantara mereka.”  (QS 38:82-83)
Mengapa Allah perlu bukti keikhlasan mereka berdua? Padahal Dia Maha Mengetahui termasuk rahasia hati yang paling dalam. ........ Dia berfirman, sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30). Dia (Allah) menghendaki kejadian ini dapat menjadi pelajaran sebagai contoh teladan dari bukti-bukti nyata rasa ikhlas keberserah dirian pada setiap diri insan kemanusiaan.
“....sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk (karena) Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS 6:162-163)
Kebanyakan diri melupakan atau bahkan menyepelekan hal ini, sehingga kehilangan esensi hidup islaminya yaitu keberserahan dirinya kepada yang Maha Kuasa, yang Maha Bijaksana, yang Maha Pengasih dan yang Maha Penyayang. Padahal ayat ini sering diucapkan sehari sebanyak lima kali didalam setiap shalat, tetapi kebanyakan tidak memahami maknanya dan mengeluarkannya tidak kepada bentuk amal perbuatan yang dilandasi penyerahan diri dan keikhlasannya hanya kepada Allah semata. Sehingga, amal perbuatannya hanya sebatas dari apa-apa yang diharapkannya saja, tidak sampai kepada ridha Allah SWT. Diri-nya lupa, bahwa kekuatan untuk dapat berbuat adalah juga karena kehendak dan kekuatan yang di berikan Allah kepadanya, dia lupa menyadari bahwa Allah meliputi segalanya, dan dia lupa, sesungguhnya perbuatannya itu akan terus menjauhkan dirinya dari Allah SWT.
Penyerahan diri juga mencakup makna memuliakan Tuhan yang maha Mulia, dan diharapkan tetap menjaga kemuliaan-Nya itu serta tidaklah pantas malah mengotori kemuliaan-Nya. Menghindari penyesatan yang dibisikkan setan yang kelihatan indah dipandang mata, akan tetapi malah menjerumuskan. Yang bermakna pula, tidak mengotori dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang tercela. Banyak perbuatan yang dengan mengatas namakan Tuhan dan menyebabkan kerusakan atau bahkan pertumpahan darah. Bila diri-nya mengorientasikan amal ibadahnya kepada ke-Muliaan Tuhan yang maha Benar, maka caranya pun sebaiknya dengan cara-cara yang mulia dan benar.
“.... Barangsiapa menyerahkan diri ‘sepenuhnya’ kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak pula bersedih hati”. (QS 2:112)
Tiada lagi susah ataupun senang, sedih dan bahagia, kesulitan dan kemudahan, hina maupun mulia, semua dianggapnya sama. Yaitu sama karena pemberian Allah SWT yang tiada daya upaya bagi siapapun untuk menolaknya. Karena ia menyadari dibalik kesulitan ada kemudahan, maka pasti semuanya itu beriringan silih berganti menemuinya berdasarkan ketetapan-Nya. Bukan berarti hanya pasrah menerima tanpa pernah berbuat, akan tetapi justru malah ikut serta dalam menciptakan kondisi yang harmonis dengan alam dan seluruh makhluk disekitarnya.
Makna Keberserah Dirian
Seperti yang telah diketahui dan diakui, bahwa Ibrahim As adalah bapak dari beberapa bangsa besar. Dari sinilah kisah diambil agar menjadi contoh teladan bagi problematika kehidupan sesudahnya. Terutama teladan dari keikhlasan istri kedua-nya dan anaknya, Siti Hajjar dan Ismail putra mereka yang masih belia, yang ketika itu ditempatkan untuk tinggal berdua tiada tetangga, di daerah tandus, kering, dan tiada air. Yaitu di sekitar Ka’bah, yang dahulunya masih berupa situs reruntuhan rumah peribadatan kuno, dan belum berpenghuni.
Hal ini terjadi karena masalah-masalah kerumah tanggaan, yaitu kecemburuan Siti Sarah, istri pertama Ibrahim As, setelah hamilnya Siti Hajjar. Sekalipun, adalah ide-nya sendiri agar suaminya memperistri Siti Hajjar untuk mendapatkan keturunan, akan tetapi, itulah sifat dasar kemanusiaan. Begitu lekatnya pengakuan (ego) mempengaruhi diri-nya. Dia tak dapat rela melihat kebahagiaan suaminya bersama bersama wanita lain dan putra mereka.
Keikhlasan seorang istri (Siti Hajjar) kepada suami-nya, yang bersama anaknya yang masih kecil, ditinggal di tempat terpencil tak berpenghuni, dan tandus tiada air. Kepada siapa lagi ia dan anak-nya akan bergantung, selain hanya berserah diri kepada Allah. Momen-momen inilah yang akhirnya diabadikan Allah yaitu dengan dijadikannya sebagai contoh teladan keberserah dirian seseorang kepada Tuhannya. Yaitu, saat panik berlarian bolak-balik kebingungan mencari air. Yang dengan izin Allah, maka keluarlah air dari dalam pasir tersebut. Itulah mata air zam-zam. ............ Dia berfirman, sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30).
Dia panik, berlari-lari kecil bolak balik dari saffa ke marwah, kebingungan mencari air untuk anaknya. Tidak ada lagi kepada siapa dia berharap dan bergantung, selain hanya kepada-Nya. Momen inilah yang diabadikan dalam bagian ibadah hajji. Tiada yang tidak mungkin bagi Dia bila telah berkehendak, maka keluarlah air dari sela-sela di bawah kaki anaknya. Dan air yang keluar, akhirnya sebagai mata air di tengah gurun tandus, yang tak pernah habis hingga sekarang, sejak ribuan tahun lalu, dan diambil jutaan orang setiap tahunnya. Bukan hanya itu, karena keberserah dirian mereka yang ikhlas, serta doa Ibrahim, maka kelimpahan rezeki bagi keturunan-keturunannya yang tinggal di situ hingga sekarang, menjadi bangsa yang makmur dengan kelimpahan rahmat dari Tuhan mereka.
“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (baithullah) yang dihormati, ya Tuhan agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati bagi sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah mereka rezeki dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur.” (QS 14:37).
Ini bukanlah tugas kenabian-nya, bukan tugas dari Tuhan-nya, akan tetapi ini jelas adalah jalan hidup-nya, istri dan anak keturunan-nya. Jalan hidup yang sekilas tampak tak memiliki harapan ke depan. Bagaimana mungkin berharap dapat tinggal dan hidup di daerah terpencil, tak berpenghuni, dan gersang tak ada air. Dan dengan keberserah dirian (islam)-nya ternyata telah ikut mempengaruhi kehendak Tuhan sebagai contoh dan teladan bagi orang-orang sesudahnya. Tentu akan menjadi lain halnya, bila diri ini menggunakan akal pikiran dalam menghadapi permasalahan tersebut. Tidak akan mungkin akal sehat menyetujui untuk mau tinggal di tempat yang terpencil, gersang, dan tak ada air. Ternyata, Dia membuktikan, bahwa tak ada yang tak mungkin bila Allah telah berkehendak.
Itulah makna berserah diri, yang diambil dari kisah keikhlasan seorang yang hanif, bersama istri dan anak-nya dalam sebuah keluarga, yang dengan penuh keikhlasan mereka berserah diri kepada Tuhannya, telah menentukan kebaikan bagi anak keturunannya hingga ribuan tahun setelahnya.
............ Dia berfirman, sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS 2:30)
Hikmah yang dapat diambil sebagai teladan dari ritual hajji ini, yang dilambangkan melalui kisah keluarga nabi Ibrahim, adalah seluruhnya mengenai keikhlasan dalam keberserah dirian (islam)-nya hamba kepada Tuhannya, seperti keikhlasan seluruh segala sesuatu yang berada di semesta alam ini berserah diri kepada-Nya.
“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pepohonan, binatang-binatang melata, dan sebagian besar dari manusia? ...........” (QS 22:18)
Keberserah dirian akan terasa maknanya bila diri kita telah terpojok dalam suatu masalah dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi, kecuali datangnya mu’jizat atau pertolongan dari yang menguasai masalahnya. Semakin berat ketidak berdayaannya maka semakin besar pula rasa keberserah diriannnya kepada yang sesungguhnya berkuasa. Maka bayang-bayang akan dosa-dosanya pun bermunculan dan menghantui sebagai yang disesalinya. Pada saat itulah diri menyadari diperlukan keikhlasan turut menyertai berserah diri (islam)-nya.
Dan kemudian terbukalah hijab yang sebelumnya menutupi hatinya. Bila dirinya dapat tetap menjaga kesadaran keadaan dan kondisi tersebut, maka kepekaannya pun semakin bertambah lagi dalam melihat kebenaran-kebenaran. Hingga dirinya telah dapat melihat hakikat segala sesuatu yang seluruhnya mengarah kepada Yang Maha Tunggal. Pada saat itulah dirinya barulah menyadari keikhlasan berserah diri (islam) yang sejati hanyalah kepada-Nya yang sesungguhnya menguasai segala sesuatu. Menyadari betapa diri-nya amat bergantung pada setiap rahmat-Nya. Menyadari bahwa hanya kepada Dia-lah tempat dirinya berlindung dari segala kelemahan dan keterbatasan-nya sebagai makhluk. 
Makna Pengorbanan (Ber-qurban)
Berangkat dari kisah tentang perintah ber-qurban kepada Allah, dengan menyembelih Ismail (umat Nasrani dan Yahudi beranggapan adalah Ishak) putra sulung Ibrahim As yang dikisahkan dalam al Qur’an sebagai pelajaran bagi umat sesudahnya. Bila ada pertentangan yang menganggap siapa sesungguhnya (anak sulung Ibrahim) yang hendak dikorbankan, seperti umat Nasrani dan Yahudi yang beranggapan Ishak-lah yang hendak dikorbankan, sesungguhnya hal itu tidak menjadi penting. Malah menimbulkan masalah-masalah pertentangan. Akan tetapi lebih kepada makna kejadiannya-lah sesungguhnya kisah ini dapat menjadi teladan bagi umat-umat kemudian. Dan bila masih merasa menganggap pentingnya tentang siapa sesungguhnya anak sulung yang dikorbankan, maka berarti diri-nya masih dilekati pengakuan (ego)-nya yang dapat menyeretnya kepada pertentangan akibat perbedaan.
Renungkanlah kisahnya, seorang yang telah memasuki masa tua-nya, dan belum dikaruniakan keturunan, kemudian setelah harapan-nya dikabulkan oleh “pemilik”-nya, dan di saat-saat hatinya sedang berbahagia dengan kehadiran seorang anak, tiba-tiba datang perintah agar memberikan “pengorbanan” berupa anak satu-satunya yang baru saja dimilikinya itu. Sekalipun, sungguh, sudah pasti Allah mengganti atau membalas pengorbanannya tersebut sebesar maupun sekecil apapun itu. Keyakinan seperti apakah itu? Setinggi apakah rasa keberserah dirian-nya terhadap yang sejatinya memiliki, menguasai, serta memelihara kerajaan langit dan bumi ini? Itukah sejatinya berqurban? Maka, ini merupakan pelajaran berharga bagi siapa saja yang hendak sejatinya berqurban. Tentu tidaklah mungkin kita akan mengalami hal seperti kisah tersebut, akan tetapi sungguh banyak dan sering kita temui di sekitar kita yang membutuhkan bantuan sedangkan kita pun merasa pas-pasan, pas hanya tinggal untuk kita sendiri. Tinggal satu-satunya, lantas bagaimana untuk kita nantinya?
Justru karena, yang tinggal (hanya) satu-satunya yang kita miliki itulah yang membuatnya menjadi bernilai tinggi dan mulia, kemudian ikhlaskanlah perbuatan itu hanya karena dan untuk Allah semata. Seperti kisah Ibrahim diatas yang difirmankan Allah sebagai pelajaran bagi orang-orang sesudahnya. Itulah sejatinya ber-qurban. Kapan lagi kita dapat berqurban yang sebenar-benarnya berqurban? Ingatlah inti dari ibadah Haji adalah (dan) ditutup dengan ber-qurban. Sedangkan Rukun Islam (berserah diri) pun ditutup dengan ibadah Haji. Maka syarat sah-nya muslim (orang-orang yang telah berserah diri) adalah ikhlas, yaitu amal perbuatan yang murni hanya karena dan untuk Allah semata.
“....sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk (karena) Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagiNya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri.” (QS 6:162-163)
Di dalam kehidupan-nya, setiap diri selalu mengalami bentuk-bentuk pengorbanan dari diri yang masih mengaku sebagai pemilik-nya, atau masih melekat pengakuan (ego)-nya. Wujud pengorbanan tersebut dilambangkan dengan ber-qurban, menyembelih hewan ternak saat menutup ibadah hajji-nya. Dan yang perlu direnungkan, bahwa keutamaannya adalah ada pada keikhlasan-nya dalam berqurban. Ber-qurban adalah bentuk pelatihan keberserah dirian, dan ada di dalam rukun ibadah haji. Sedangkan dalam kenyataan hidup di kehidupannya, setiap diri pasti telah mengalami, baik disadari ataupun tidak disadari dalam pengorbanan-nya, maka oleh karena itulah, Allah menghendaki setiap diri melakukannya didasari kemurnian atau keikhlasan.
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas semata-mata karena menjalankan agama .......”. (QS 98:5)
Umumnya, kebanyakan orang lebih kepada pemahaman keutamaan berqurbannya hanya pada bulan-bulan Hajji saja, sebagai amal perbuatan (ibadah) yang telah ditetapkan dan direncanakan. Padahal, itu hanya sekedar seremoni atau perayaan saja. Sedangkan hakikinya adalah yang menjadi kehendak-Nya, yaitu adalah kepekaan serta kepedulian rasa dari setiap diri insan kemanusiaan terhadap sesama-nya yang sedang berada dalam kekurangan, yang sedang berada dalam kebutuhan yang amat mendesak memerlukan bantuan atau pengorbanan dari-nya. Keadaan atau kondisi tersebut bukan hanya ada pada bulan-bulan Hajji saja, melainkan di setiap waktu tentu kita banyak menemui situasi dan keadaan tersebut. Pada saat-saat itulah diri-diri kita hendaknya lebih peka kepada mereka yang membutuhkan.
 Bila telah dapat seperti itu, dengan murni dan ikhlas semata hanya karena Allah dalam membantu, maka itulah wujud sejatinya ber-qurban. Dan yakinlah, bahwa Allah tidak akan meminta kepada yang tidak mampu memberi. Karena itulah kepada mereka yang tidak peka hatinya, maka Allah pun tak menghendaki bantuannya. Dan Allah sungguh Maha Kaya serta tidak membutuhkan bantuan makhluknya, yang diinginkan-Nya hanyalah keikhlasan.
...... dan orang-orang yang dalam hartanya menyiapkan bagian tertentu, bagi orang-orang yang meminta dan yang tidak meminta ......”. (QS 70:24-25)
Tidak ada bedanya ritual berqurban pada bulan Hajji dengan ritual-ritual berqurban pada umat-umat agama lainnya, yang memiliki tujuan yang sama yaitu sebagai wujud ibadah kepada Tuhannya. Akan tetapi, lebih kepada makna yang diwujudkan dalam amal perbuatan kesehariannya lah yang lebih utama, bahwa keikhlasan berkorban dalam setiap amal perbuatannya-lah yang akan sampai kepada Allah dan sebagai wujud dari keberserah dirian-nya. Itulah makna islam yang sesungguhnya sebagai wujud sejatinya berserah diri dengan ikhlas.
Renungkanlah sedalam-dalamnya, selain menerima, hidup juga adalah berkorban, karena sesungguhnya dipenuhi oleh pengorbanan untuk kepentingan pihak lain. Dan kemurnian atau keikhlasan berkorban adalah wujud berserah diri seorang hamba kepada Tuhannya. Yaitu hamba yang menerima segala anugerah, yang kemudian untuk disebarkan kembali kepada sesamanya, sebagai rahmat dari Tuhannya. Tidak-lah mengakui anugerah tersebut sebagai milik-nya dan sebagai yang dikuasai-nya, tidak pula semena-mena terhadap pengelolaan-nya, serta tidak pula menyebabkan kesesatan pada diri-nya. Anugerah tersebut adalah karunia Tuhannya yang Maha Pemurah dan Penyayang, yang suatu saat, kelak akan dipertanggung jawabkan-nya. Dan anugerah tersebut dapat berupa kekuasaan dan jabatan, anak keturunan dan istri, harta benda dan perhiasan, ladang pekerjaan, kendaraan, dan lain sebagainya yang merupakan karunia serta sekaligus cobaan dari-Nya.
Pengorbanan bila menerima anugerah kekuasaan dan jabatan, adalah mengorbankan hati, pikiran, waktu, tenaga, serta daya lainnya demi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran mereka yang dikuasai-nya. Pada anugerah anak keturunan dan istri, pengorbanannya adalah dengan mencurahkan hati, pikiran, waktu, tenaga, serta daya lainnya demi pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohaninya. Pada anugerah harta benda, adalah mengorbankan ego-nya demi pekanya hati melihat sesama yang sedang kesulitan dan membutuhkan bantuan sebagian dari harta-nya. Pada ladang pekerjaan, pengorbanannya adalah mencurahkan hati, pikiran, waktu, tenaga, serta daya lainnya demi suksesnya pekerjaan sesuai yang diharapkan. Dan lain sebagainya, yang dalam kehidupan-nya tiada yang lepas dari pengorbanan-nya, sebagai pemeliharaan, perawatan dan pengelolaan yang bertanggung jawab dari setiap anugerah yang dikaruniakan-Nya.
Terkadang, diri ini begitu memaksakan pada keinginan, sekalipun keinginan tersebut merupakan kebaikan. Seperti keinginan untuk melakukan ibadah hajji yang berulang-ulang kali, yang dianggapnya adalah suatu kebaikan bagi diri-nya. Hal tersebut tidaklah salah, akan tetapi akan menjadi kesalahan bila disekeliling kita masih banyak orang yang membutuhkan bantuan akibat kesulitannya. Jauh lebih bernilai ibadahnya bila disalurkan kepada membantu meringankan beban kesulitan orang-orang yang membutuhkan bantuannya, ketimbang pergi hajji untuk yang kesekian kalinya. Karena kewajiban ibadah hajji tersebut hanyalah satu kali.
Ada pula mereka yang merasa masih belum sempurna dalam ibadah hajji sebelumnya, sehingga merasa perlu mengulanginya. Padahal ibadah tersebut adalah untuk melatih kemanusiaan memahami makna-makna yang ada di dalam ritual ibadah tersebut untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga tercapailah maksud dan tujuan ibadah tersebut sebagai yang disebut hajji mabrur. Maka, dengan demikian menjadi tak wajib lagi ibadah-ibadah hajji berikutnya, dan menjadi kewajiban baginya merefleksikan atau mewujudkan ibadah hajji pertamanya kepada amal perbuatan kebajikan yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Yaitu, dengan mewujudkan makna-makna yang telah disebutkan di atas di dalam gerak hidup kesehariannya. Begitulah seharusnya kita memahaminya, sehingga kemanusiaan dapat lebih memaksimalkan ibadah-ibadah yang jauh lebih utama untuk terwujudnya insan-insan yang menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmatan lil ‘aalamiyn.
“Tahukah kamu (perbuatan) yang mendustakan agama? Maka itulah yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan”. (QS 107:1-7)
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS 2:177)
Mengorbankan keinginan, sekalipun hal tersebut merupakan ibadah, dan suatu kebaikan, akan tetapi ada ibadah lain yang lebih utama yaitu memberikan bantuan. Sehingga menyelamatkan diri-nya dari termasuk orang-orang yang celaka dalam shalat-nya, yaitu termasuk ke dalam orang-orang yang mendustakan agama, seperti bunyi ayat di atas. Renungkanlah, sesungguhnya iblis telah membiaskan keinginan tersebut, agar terlihat indah bagi kebaikan, sehingga banyak diri-diri kemanusiaan yang terjerumus pada kecelakaan.
“Ia (iblis) berkata: Tuhanku, oleh karena Engkau telah menghukum aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi pandangan mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.”  (QS 15:39)
“Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan.  Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka.”  (QS 2:175)
Itulah hidup, yang ternyata isinya adalah hanya berkorban belaka. Sedang bagi diri-nya adalah hanya rasa nikmat puasnya setelah tercapai. Bahkan untuk makan saja, diri ini harus berkorban dahulu, apalagi untuk hal-hal besar lagi mulia. Dan yang kembali kepada Allah pun, adalah cuma hanya rasa ikhlas dalam melakukannya saja. Dan tak ada yang sia-sia dari setiap pengorbanan yang diirngi keikhlasan. Pengorbanan terbesar dari insan kemanusiaan adalah jihad fi sabilillahi. Sedangkan jihad terbesar (akbar) adalah melawan hawa nafs (keinginan jiwa)-nya sendiri, yaitu melawan pengakuan (ego)-nya sendiri.
Dan bagi mereka yang belum juga kesampaian untuk mampu beribadah hajji yang membutuhkan biaya yang cukup besar, tidak perlu kecewa, sambil menunggu kesanggupan tersebut, maka sadarilah pula bahwa baithullah (rumah Allah) di Mekkah itu adalah yang dzahir, maka adapula baithullah yang bathin, yaitu yang berada di dalam dada, kalbu kita yang paling dalam. Hampirilah rumah Allah tersebut dan menemui-Nya dengan mensucikan hati yang selalu berdzikir (mengingat) Allah. Kelak kita akan memahami hal ini, setelah Dia bukakan dada kita untuk mendapatkan karunia hikmah-Nya yang begitu luas yang sebagian besarnya masih tersembunyi (ghaib). Insya Allah, Dia akan menerima keberserah dirian (islam) kita yang didasari keikhlasan.
“.... sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
(QS 91:7-10)




Bab XIII
MEREKA yang IKHLAS
(Mukhlis)
“Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan rezeki untukmu dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah). Maka sembahlah Allah dengan ikhlas menjalankan agama-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai-(nya).”
(QS 40:13-14)
C
ukuplah bagi setiap diri insan kemanusiaan mencapai tahap ini, yaitu tingkat keikhlasan berserah diri (islam) dalam setiap niat dan amal perbuatannya yang terjaga kelurusannya, ingatnya, dan kesuciannya yang didasari oleh kokohnya keimanan. Biarkanlah tahap-tahap selanjutnya berjalan berdasarkan kehendak Dia Yang Maha Pemurah menganugerahkan kepada diri-nya. karena mereka yang ikhlas telah lepas dari segala macam bentuk keinginan, sekalipun keinginan tersebut mulia kebaikannya. Sehingga, telah lepasnya segala bentuk keinginan dari jiwa adalah kemuliaan itu sendiri.
Ada kejaran-kejaran lainnya yang sungguh menggiurkan bagi para pencari, seperti tahap tarikhat, hakikat, ma’rifat, dan hikmah, namun kehendak Dia pulalah yang menentukan segalanya. Akan tetapi, sama sekali, kita tidak akan menyentuh kejaran tahap berikutnya tersebut, mungkin di waktu-waktu yang lain, insya Allah, barulah kita akan dapat mengulasnya. Sekali lagi, menjaga kokohnya keimanan dan keikhlasan berserah diri adalah hal yang amat mutlak, yang bila hal tersebut sampai terjadi kelalaian, maka pengakuan (ego)-lah yang akan meruntuhkannya.
Jangankan harapan  menerima anugerah mencapai tahap-tahap kejaran selanjutnya tersebut di atas, jiwa-nya akan kerepotan sendiri dan disibukkan oleh kebutuhan ego-nya tersebut. Itulah makanya banyak ulama yang menyarankan memulai langkah tahapan kejaran dari kekokohan syariat, sehingga tidak akan tersesat. Tetapi, apalagi yang dibutuhkan jiwa-jiwa yang telah ikhlas, selain telah lenyapnya segala bentuk keinginan? Sesungguhnya, tahapan kejaran tersebut, akan datang dengan sendirinya atas kehendak Allah sebagai petunjuk, bila jiwa ini memang telah siap menerimanya. Dan hanya Dia yang mengetahui jiwa-jiwa yang telah siap, serta hanya dengan kehendak Dia pula kepada siapa hendak diberikan.
“..... Laa Quwwata illaa BILLAH (tiada kekuatan kecuali atas kehendak Allah).” (QS 18:39)
Kembali kepada makna, tiada daya upaya selain daya upaya-Nya. Dan segala kekuatan apapun geraknya, sesungguhnya adalah karena kekuatan Dia. Tiada yang luput dari-Nya, termasuk keinginan jiwa yang kekuatannya adalah karena diberikan oleh-Nya. Maka kelurusannya, ingatnya, dan kesuciannya akan menjaga keinginan tersebut tetap sebagai kehendak-Nya. Dan yang lebih mulia adalah terhindar dari segala bentuk keinginan yang ternyata beresiko menjerumuskan kepada kesesatan. Pada setiap keinginan tersebutlah sesungguhnya iblis ikut menumpang sambil membawa bujuk rayu penyesatan yang dikemas agar terkesan indah pada pandangan.
Apakah tidak menjadikan orang-orang yang apatis bila telah tidak memiliki keinginan? Pertanyaan seperti ini pasti akan timbul dan menyebabkan kekhawatiran, seolah telah ikut pula menggerus kembali kokohnya keimanan yang telah dibangun. Hal ini menjadi perlu diluruskan karena keinginan yang dapat menyesatkan, lebih jauhnya, adalah keinginan yang didasari atau dipengaruhi oleh kebutuhan. Belum lagi keinginan, yang dalam perjalanannya, dipengaruhi oleh angan-angan menggoda dan menggiurkan yang diperlihatkan iblis sebagai pemandangan yang indah.
Agar tidak terjadi kesalah pahaman yang berlanjut, maka akan dibuka kembali makna-makna yang sebelumnya telah terurai dan dibahas sebelum-belumnya, namun mungkin masih belum lengkap menuntaskan sehingga ternyata masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang timbul setelah ada bahasan baru. Hal tersebut merupakan kewajaran yang lumrah dan juga ada pada ketetapan-Nya (sunathullah), yaitu betapa luasnya ilmu Allah, tak terkira dan terhitung. Membuka yang satu, maka akan ada kebutuhan untuk membuka yang lainnya, begitu seterusnya tanpa pernah tiada lagi yang tak bisa lagi dibuka atau telah terpenuhi. Sebab Dia-lah Allahu Akbar.
Sebagai dasar pijakan pertama adalah, bahwa keinginan bukanlah niat. Jangan diidentikkan keduanya sebagai yang satu makna. Niat yang mengawali segala amal perbuatan, dan masih bathin berada di dalam kalbu, sehingga membuat umumnya niat adalah selalu suci atau bersih, yang dapat mengotorinya justru keinginan yang hadir kemudian, menambahkan. Karena itu pula ada ungkapan, kembalilah ke niat awal.
Sedangkan keinginan, yang hadir kemudian, selalu dipengaruhi pikiran-pikiran yang tersimpan di dalam memorinya, dan kekotorannya adalah karena kebutuhan-kebutuhan yang secara tiba-tiba ikut pula hadir. Memori pikiran yang mempengaruhi dapat berupa ketakutan, keserakahan, ingin dipuji, dan lain-lainnya sebagai yang pernah terekam di dalam otak-nya.
Dan keinginan ini dapat hadir pula sebelum niat telah menjadi amal perbuatan yang diwujudkan. Tetapi, yang jelas, setelah adanya niat. Itulah mengapa keinginan harus terjaga kelurusannya, ingatnya, dan kesuciannya agar tetap sebagai kehendak-Nya. Jadi, bukanlah dilarang, melainkan diarahkan agar tetap terjaga dan terkendali. Inilah yang dimaksud dengan nafs al mutma’innah, sebagai jiwa yang tenang terkendali, bukan yang justru dikendalikan oleh keinginan.
Dasar pijakan kedua adalah, keinginan merupakan rahmat yang dianugerahkan Allah. Dan perlu diingat kembali, bahwa setiap anugerah-Nya bukanlah hibah kepemilikan, dan tetap akan diminta pertanggung jawabannya, kelak. Sehingga keinginan harus terjaga kelurusannya, ingatnya, dan kesuciannya agar tetap sebagai kehendak-Nya, serta membawa kepada amal perbuatan yang bermanfaat bagi sesama makhluk-Nya. Sebagai rahmatan lil ‘aalamiiyn.
Dasar pijakan ketiga adalah, tanpa keinginan bukan berarti tidak dapat mewujudkan niat. Seringkali, justru jiwa yang telah memiliki niat malah dipengaruhi oleh keinginan-keinginan yang dapat membelokkan niat awalnya. Padahal yang utama adalah niat-nya yang sebagai penentu mewujudnya amal perbuatan, serta penentu baik atau buruk hari kemudian-nya. Bila telah terkontaminasi kekotoran keinginan yang menyesatkan, maka amal perbuatannya pun akan ikut terkotori, pada akhirnya, di hari kemudian-nya, dia akan membawa beban-beban pembersihan akibat kekotoran tersebut.
Bila kita kembalikan kepada kitab, firman Tuhan, yang menyatakan haramnya khamar (sebagai yang memabukkan), dikarenakan lebih banyak mudharat daripada manfaatnya, maka demikian pula dengan keinginan. Dapat pula memabukkan dan menyesatkan, bahkan bahkan akibat dampaknya pun adalah dapat merugikan orang lain, selain dirinya sendiri sebagai pelakunya.
Banyak sekali contoh-contoh dimana niat mulia pada awalnya, dapat dibelokkan atau disesatkan oleh keinginan-keinginan, seperti pada halnya para politikus yang pada niat awal-nya mulia dengan mengatas namakan rakyat, akan tetapi setelah dalam perjalanannya dapat dibelokkan oleh keinginan-keinginan yang datang kemudian akibat kebutuhan atau terlena oleh empuknya kursi jabatannya. Seperti para pedagang yang tergiur keuntungan kemudian menimbun saat mengetahui akan terjadi kenaikan harga. Karyawan atau pegawai negri yang terpaksa korupsi akibat dibelokkan keinginan dari kebutuhan-kebutuhan yang datang kemudian, yang membiaskan dari niat awal yang mulia, yaitu bekerja demi keluarga.
Kembalikan keinginan sebagai yang terjaga kelurusannya, ingatnya, dan kesuciannya agar tetap sebagai kehendak-Nya. Karena sesungguhnya, tiada daya upaya selain daya upaya-Nya. Dan segala kekuatan apapun geraknya, sesungguhnya adalah karena kekuatan Dia. Tiada yang luput dari-Nya, termasuk keinginan jiwa yang kekuatannya adalah karena diberikan oleh-Nya. Demikianlah wujud keikhlasan dalam berserah diri (islam).
........ Barangsiapa menyerahkan diri ‘sepenuhnya’ kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak pula bersedih hati”. (QS 2:112)
Itulah bahayanya keinginan yang tiada terkendali. Dan pada umumnya, keinginan tersebut ditimbulkan oleh ketakutan. Sedangkan rasa takut dapat timbul karena disebabkan beberapa faktor pemicu. Seperti rasa takut yang timbul karena ketakutan akan kemiskinan, ketakutan akan mengalami kesulitan, ketakutan jatuh bangkrut atau mengalami kerugian, ketakutan turun dari jabatan, serta banyak ketakutan lainnya yang amat mempengaruhi niat serta amal perbuatan-nya, sehingga timbullah keinginan-keinginan yang dapat menyesatkan jiwa-nya, bahkan sampai kepada menggadaikan keimanan-nya, merontokkan kembali keimanan yang sebelumnya telah diperkokoh-nya. Bagaimana mungkin seseorang yang telah kokoh keimanan (keyakinan)-nya masih memiliki rasa takut?
Tidak pula bersedih hati, bagi mereka-mereka yang telah dapat melepaskan segala bentuk keinginan. Umumnya, mereka-mereka yang bersedih hati adalah karena tidak tercapai keinginan-nya. Sehingga, apabila mereka hendak lepas dari kesedihan-nya, maka mereka dengan segera mengorbankan atau melepas keinginan-nya tersebut. Sayangnya, masih saja terjebak dengan mencoba keinginan-keinginan lainnya yang masih menggiurkan angan-angannya.
Tuhan kita adalah Allahu raahmanur-rahiiym, sebagai Yang Maha Pemurah dan Maha Kasih Sayang. Kokohnya keimanan kepada-Nya seharusnya membawa kepada keyakinan setiap diri, bahwa Dia telah menganugerahkan seluruh rahmat-Nya baik berupa anugerah yang telah kita terima, maupun yang belum kita terima (sebagai hari kemudian). Artinya, segala macam anugerah yang belum diterima, apakah itu kebaikan atau keburukan, adalah ditentukan berdasarkan usaha (upaya) jerih payah kita pada setiap kebaikan atau keburukan amal perbuatan pada saat ini. Tentunya ada pula anugerah kebaikan atau keburukan yang belum diterima (dituai) saat ini dari amal perbuatan sebelumnya.
Sedangkan kebaikan atau keburukan amal perbuatan dinilai dari rasa ikhlas-nya berserah diri kepada apa-apa yang telah diyakini (iman)-nya. Dan rasa ikhlas-nya berserah diri ini sebenarnya adalah sebagai usaha memelihara kekokohan keimanan-nya, sebagai pemandu arah kepada jalan lurus-Nya yang menuju keselamatan dan kenikmatan hidup, baik hidup di kehidupan saat ini (dunia) maupun kehidupan di hari kemudian (akhirat).
Sekedar untuk mengingatkan agar menggugah syaraf-syaraf kesadaran kita. Maka bayangkanlah, bila amal perbuatan kebaikan yang tidak disertai rasa ikhlas, seperti sekolah untuk menuntut ilmu, menjadi guru untuk mendidik, bekerja untuk keluarga, menjadi penegak hukum untuk keadilan, menjadi pemimpin untuk mereka yang dipimpin. Tentulah hasilnya bisa ditebak dengan mudah, maka akan terjadi hidup kehidupan yang tidak murah dan tidak sehat, bahkan saling menularkan seperti halnya wabah penyakit. Sesungguhnya itu sebagai yang kembali lagi kepada masing-masing diri-nya sebagai hasil yang dituai, dan biaya hidup kehidupan yang mahal dan berpenyakit tersebut, ternyata, mereka sendirilah yang menciptakannya.
Bayangkanlah betapa telah menjadi mahalnya kehidupan sekarang ini, seperti di terminal, di stasiun, atau di pasar sebagai fasilitas umum, untuk buang air kecil saja harus bayar. Parkir kendaraan pun begitu, sekalipun hendak berbelanja yang jelas mengeluarkan biaya. Untuk berdagang di emperan pasar saja, terkena bayaran retribusi, belum lagi pungutan lainnya seperti preman. Bahkan untuk pengurusan izin-izin dan surat-surat yang berhubungan dengan birokrasi pemerintahan, selalu ada pungutan-pungutan tambahan. Tentunya hal ini akan menular, karena biasa ditodong, maka sekarang gantian, diri-nya pun akan menodong,  karena tuntutan kebutuhan biaya hidupnya yang telah tinggi akibat sering ditodong.
Maka hal ini akan menular terus, seperti harga-harga pun akan terus cenderung menaik akibat terus meningginya pula biaya-biaya penodongan tersebut. Dan ternyata, itu kembali lagi kepada masing-masingnya menjadi seperti proses siklus penodongan, hanya saja biayanya terus meninggi. Sebenarnya bukan masalah tinggi biayanya, akan tetapi nilai kebaikan dan kebenaran sebagai moralitas hidup kehidupannya yang menjadi rusak. Keikhlasan berbuat telah sirna tergantikan tuntutan kebutuhan. Sportivitas kehidupan hilang dan hanya meninggalkan saling sikut-sana sikut-sini. Bapak dibohongi anaknya, suami dibohongi istrinya, bos dibohongi kacungnya, pembeli dibohongi penjual, pencari keadilan dibohongi penegak keadilan, begitupun sebaliknya. Semua saling membohongi demi memenuhi tuntutan kebutuhan dan keinginannya. Itulah bukti telah sakit-nya kehidupan saat ini.
Begitu reformasi bergulir, dan segala permasalahan dibuka seluas-luas dan sebebas-bebasnya oleh media, yang terkadang pula tak jarang berlebihan dalam penyajiannya, dari mulai KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), pungli, pemerasan, premanisme, bahkan sampai kepada bahayanya narkoba, maka seperti bom waktu yang baru saja meletus. Banyak pengamat dadakan yang bermunculan yang angkat bicara tidak hanya di televisi, akan tetapi juga, malah sampai warung-warung kopi di setiap sudut jalan, hingga sebagai pembuka obrolan antar tetangga.
Tidak hanya itu, para da’i dan ulama pun, di setiap ceramahnya, juga tidak lupa untuk mengangkat hal ini, seolah-olah ini adalah hal yang baru yang sebelumnya tak pernah ada, dan seolah juga ini tak berhubungan dengan pembentukan moral umat di waktu-waktu yang lalu. Ya, semua komponen dan semua profesi bertanggung jawab, bahkan seluruh masyarakat warga negara adalah pelaku sekaligus korban. Karena massif dan kompleks-nya kerusakan yang telah terjadi di negri ini, bahkan korbannya pun kepada anak keturunan yang belum lahir ke dunia inipun kelak akan merasakannya.
Sekarang, begitu hukum hendak ditegakkan, kerusakan hendak diperbaiki, dan permasalahan bangsa hendak diselesaikan, yang ada malah kebingungan, terjadilah saling tuding satu sama lain. Sistem yang ada menjadi kambing hitam, dan undang-undang pun terasa perlu direvisi, hingga timbul wacana hukuman mati untuk dikenakan kepada para perusak yang telah mengacak-ngacak negri ini.
Hukuman mati bukanlah hal yang tabu bila harus digunakan pada kondisi negara seperti ini, yang sedang dalam keadaan darurat begini. Tapi jika para penentu kebijakan negri ini dapat arif dan bijaksana hendak menyelesaikan dan dapat melihat permasalahan sesungguhnya secara murni dan jernih, dan tidak sebagai yang malah ikut terjebak dalam kubangan kesalahan kolektif di negri ini, yang sesungguhnya justru hendak menyelamatkan jiwa-jiwa warga negaranya dari kebangkrutan moral yang telah menyebabkan parahnya keadaan ini, maka hendaklah dimulai dari pembenahan moral bangsa. Yaitu moral masing-masing diri.
Dan dimulailah dari diri sendiri, hingga kemudian dapat menjadi teladan bagi keluarga, kemudian bagi lingkungan sekitar sampai hingga jauh ke yang lebih luas lagi. Barulah para penentu kebijakan, yang juga sebagai pemimpin menjadi layak sebagai pemimpin yang membawa teladan, kemudian mengajak seluruh komponen secara massal untuk membenahi moral bagi seluruh warganya.
Bila ada anggapan, bahwa hal ini tentu telah dilakukan para da’i dan ulama yang telah berperilaku sempurna dan mulia sebagai teladan dan sebagai penyampai ajaran lurus. Apakah benar begitu? Buktinya keadaan malah bertambah parah setelah reformasi?
Ya, tidak hanya da’i dan ulama yang bertanggung jawab atas keadaan ini, melainkan setiap diri bangsa. Apapun profesinya. Bahkan termasuk dengan insan pers yang membuka seluas-luasnya yang membuat seluruh masyarakat sadar bahwa dirinya pun kini sedang berada  di dalam kubangan. Sayangnya, mereka kebanyakan tak menyadari bahwa diri-dirinya pun ternyata sebagai yang berperan ikut membangun kubangan tersebut, di dalam kesalahan kolektif yang merusak negrinya sendiri.
Maka, bila sebelumnya, mereka saling todong sebagai sebab, kini yang mereka hadapi adalah saling tuding yang sebagai salah satu akibat selain akibat lainnya, yaitu mengalami mahalnya kehidupan sehari-harinya. Disinilah, di alam dunia ini, kita mengalami hari kemudian yang termasuk di dalamnya pula sebagai hari pembalasan dari setiap amal perbuatan kita sebelumnya. Sadarilah, apakah bayi-bayi yang sekarang berada dalam kandungan tidak ikut merasakan kesulitan? Ingatlah, banyak kasus balita yang kekurangan gizi di beberapa daerah. Maka bila kita hendak menyadari dan memperbaiki, maka segeralah kembali dengan memperbaiki moral kita masing-masing, karena sesungguhnya apa yang kita perbuat jelas sekali berdampak kepada banyak lainnya, sekecil apapun itu. Sekalipun sebagai yang ditodong, atau hanya sekedar ingin mendapatkan pelayanan yang cepat dari birokrasi. Anak keturunan kitapun akan merasakan akibatnya.
Dan begitu pula bila amal perbuatan tersebut di atas telah disertai keikhlasan-nya, namun diperjalanannya dapat masuk pula keinginan-keinginan yang dapat mengotori dan melunturkan keikhlasan-nya. Tentu akibatnya adalah seperti yang terurai di atas. Maka adalah kewajiban setiap diri kitalah untuk memulai kembali mengkokohkan keimanan, kembali kepada jalan lurus (agama), serta memurnikan (keikhlasan) berserah diri dalam setiap gerak amal perbuatan sebagai usaha memperbaiki keadaan kehidupan yang bila kita selami, baik di sekitar kita, maupun sampai kepada wilayah yang jauh lebih luas, telah sangat memprihatinkan.
Bukan (hanya) karena kemiskinan atau kekurangan gizi, bukan karena sulitnya lapangan pekerjaan, bukan karena tingginya angka kriminalitas, bukan karena maraknya premanisme yang bahkan dengan mengatas namakan agama, serta bukan karena korupsi yang merajalela di setiap lini kehidupan. Juga bukan pula (hanya) karena banyaknya bencana yang menimpa sebagai balasan atau azab, akan tetapi hanya lebih kepada sekedar usaha memperbaiki keadaan kehidupan demi kehidupan ke depan, dimana semua keturunan kita pun akan hidup menetap, juga sebagai hari kemudian kita, tentunya.
Kepuasan dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan tidak akan pernah tercapai dalam kehidupan dunia ini, yang ada malah tersesat oleh angan-angan keinginan dan kebutuhannya tersebut. Perut kita pun hanya cukup menampung sepiring dua piring makanan. Bila berlebihan pun, malah menjadikannya penyakit yang merepotkan sendiri. Begitu pula pada keinginan banyaknya harta benda, yang justru malah kembali kepada dirinya sebagai yang meresahkan hati dan jiwa-nya. Juga kepada keinginan memiliki wanita atau istri-istri, maka akan selalu ditemui wanita-wanita yang lebih muda, cantik, serta selalu menarik perhatiannya, tiada akan pernah ada habisnya. Termasuk pula pada kekuasaan, tidak akan pernah ada kekuasaan yang sejatinya benar-benar berkuasa dan akan terus selamanya dimiliki, tetap saja makhluk memiliki keterbatasan. Keterbatasannya itulah yang tak disadari, sementara keinginan hati menghendaki lebih. Inilah yang dimaksud Allah dengan firman-Nya sebagai berikut.
“Wahai Ahli Kitab ! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, ......”. (QS 4:171)
Anugerah-anugerah tersebut sesungguhnya adalah fana, berubah-ubah, atau hampa bila didasari atau dimulai oleh keinginan, apalagi kebutuhan, maka bukan nikmat yang datang, melainkan akan menjadi bumerang, yang akan kembali kepada dirinya membawa setumpuk masalah lain yang amat menyusahkan jiwanya sendiri. Akan menjadi lain, terasa nikmatnya serta membawa kedamaian dan ketentraman, bila anugerah-anugerah tersebut memang diterimanya bukan karena usaha memenuhi keinginan dan kebutuhannya, melainkan menyadari bahwa anugerah tersebut merupakan amanah, dan dengan keikhlasan berserah diri menjalankan atau mengelolanya secara bertanggung jawab pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.
Keikhlasan bentuk kemurnian segala amal perbuatan yang terbebas dari kontaminasi akibat kekotoran yang menyertai amal perbuatan tersebut. Di alam ini, bahkan seluruh rahmat Allah Yang Maha Pemurah yang berupa nikmat kebaikan, begitu sampai kepada diri kemanusiaan, maka terbias menjadi dua hal yang berpasangan. Begitulah kemanusiaan selalu menilainya, yaitu nikmat kebaikan dan keburukan. Bila sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, maka disebutlah rahmat tersebut sebagai nikmat kebaikan. Sedangkan bila bertolak belakang dengan keinginannya, maka yang datang dari Tuhannya tersebut disebut sebagai azab atau keburukan.
Mereka inilah yang tak dapat menyadari bahwa dirinyalah yang telah berlebihan dalam berharap dan berkeinginan, atau berlebihan dalam perbuatan yang tidak berada dalam kehendak-Nya. Sehingga harapan dan kenyataannya bagai jauh panggang dari api. Segala sesuatu telah Allah tentukan kadar-kadarnya sebagai keseimbangan yang pasti terjaga keadilannya. Karena itu, ketika mereka berlebihan dalam menerima rahmat Allah tersebut, maka kelebihan-nya tersebut pasti kembali kepada dirinya sebagai keburukan.
Dimulai dari keikhlasan berserah diri dalam setiap niat dan amal perbuatannya yang terjaga kelurusannya, ingatnya, dan kesuciannya yang dilandasi oleh kokohnya keimanan adalah sebagai jalan bagi masing diri yang hendak memperbaiki keadaan ini. Tidaklah mungkin untuk mengandalkan pemimpin-pemimpin untuk dapat mengubah keadaan ini untuk menjadi lebih baik, apalagi mengharapkan perubahan yang sekejapan mata. Hanya dengan memperbaiki akhlak masing-masing diri, kemudian saling mengingatkan yang juga dimulai dari ruang lingkup yang lebih kecil dahulu, seperti keluarga, maka insya Allah, perlahan tapi pasti, akan semakin berkembang menular pula tetapi dalam arti kebaikan, yaitu sebagai teladan. Dan pada akhirnya dapat memperbaiki keadaan kehidupan semesta yang sehat, terpuji, dan mulia sebab diri-diri kita adalah perwujudan dari Dia Yang Maha Terpuji dan Maha Mulia.
Sehingga, paling tidak, kita telah menciptakan lingkungan yang layak dan sehat, serta dipenuhi diri-diri yang berakhlak terpuji dan mulia, sebagai diri-diri yang jujur, terpercaya, disiplin, dan teguh pendirian pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Maka tiada lagi kekhawatiran pada hari kemudian, kelak. Dengan demikian, jiwa kita telah mendapatkan ketenangan dan ketentraman, serta siap kapanpun, bila telah tiba waktunya, untuk kembali pulang kepada Dia sebagai pemilik segala sesuatu, termasuk dengan kebersihan jiwa dan jasad-nya, ilay’ihi raji’un. Inilah makna sesungguhnya keikhlasan dalam berserah diri (islam) dengan menyusuri setiap langkah demi langkah dari jalan lurus (agama)-Nya, yaitu diynul qayyimah.


1 komentar: